JENAZAH

Masih banyak orang yang memahami dan meyakini bahwa agama yang dipeluk seseorang menentukan seseorang itu masuk ke sorga atau kejeblos ke neraka. Karena paham dan keyakinan demikian itu N yang pernah menjadi calon pendeta, dan lebih sepuluh tahun sakit lumpuh total, akhirnya oleh keluarganya dinyatakan pindah agama.
Ibu S lama sekali meninggalkan kampung halaman, hidup di kota lain. Di kota lain itulah ibu S berpindah ke agama Kristen. Kira-kira dua tahun yang lalu, ia pulang ke kampung halaman dan menumpang pada keluarganya, yang semua beragama bukan Kristen. Ketika kemarin ia meninggal dunia, keluarganya meminta agar ibu S diurus oleh gereja. Rumah duka untuk ibu S tidak di rumah keluarganya itu. Gereja pun menyanggupinya.
Ketika ada kasus seseorang yang meninggal karena menjadi pelaku peledakan bom bunuh diri, menurut berita jenazahnya ditolak dimakamkan oleh masyarakat lingkungan (tetangga) orang tsb.
Tidak kah selayaknya jenazah seseorang itu diperlakukan dengan hormat bukan berdasarkan perilaku ketika masih hidup, melainkan karena ia adalah manusia. Meskipun ia dapat digolongkan orang yang jahat, banyak dosa, menimbun kesalahan, tetapi tetap saja ia seorang manusia. Ia orang yang berharkat dan martabat manusia, bukan berubah menjadi binatang atau iblis. Maka selayaknya jenazahnya diperlakukan sebagai jenazah manusia.
Tidakkah selayaknya jenazah seseorang itu diperlakukan dengan hormat bukan berdasarkan agama ketika ia masih hidup, melainkan karena ia adalah manusia.
Kemuliaan dan kebenaran agama itu bukan dibuktikan bukan oleh ajarannya, tetapi oleh perilaku pemeluknya. Meskipun orang menyatakan bahwa agama tertentu itu benar, baik, mulia, dengan menunjukkan bukti bahwa ajarannya begini atau begitu, tetapi semua itu hanyalah omong kosong, kalau perilaku pemeluknya tidak sesuai dengan ajaran yang baik, benar, mulia itu. Sebaliknya, mungkin tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa ajaran keyakinan tertentu itu baik, benar, mulia, dsb, tetapi ketika pemeluknya menjalankan perilaku baik, mulia, luhur, penuh cinta, dsb, maka perilaku itu menunjukkan dan membuktikan ajaran keyakinan itu.

Ki Atma

KESALEHAN

Kesalehan itu lawannya dosa atau kesalahan. Orang yang saleh itu tidak dosa atau salah, sebaliknya orang yang dosa atau salah itu tidak saleh.
Ada orang yang ingin hidup sangat saleh, terhindar dari dosa atau salah, lalu hidup di biara atau pertapaan. Seluruh waktu dalam hidupnya diisi hanya dengan menenggelamkan diri dalam keheningan. Terus menerus menghentikan pikiran sebab pikiran itu yang menjadi awal mula dari dosa atau salah. Ia melakukan aktivitas, bekerja, tetapi pikirannya terarah kepada satu hal saja yaitu keheningan. Ia awasi pikiran itu. Kalau mulai bergerak segera dikembalikan ke arah keheningan. Kalau pun ia mencangkul, menyabit, membuat kursi, mengukir, dsb tetapi pikirannya tetap diarahkan ke keheningan. Ia menggumamkan kata suci tertentu untuk menuntun pikirannya ke arah keheningan itu. Karena tidak ada penggodaan maka ia tidak mudah tergoda kecuali oleh pikirannya sendiri.
Ada pemimpin agama yang jatuh ke dalam dosa berjinah, bahkan ada juga yang membunuh selingkuhannya untuk menutupi dosa atau kesalahannya. Meskipun mereka itu pemimpin agama, yang pada umumnya dianggap sebagai orang yang saleh, tetapi mereka berbuat dosa atau salah, sebab berada bahkan mungkin dekat dengan penggodaan. Kalau seorang lelaki berada di pertapaan, yang di pertapaan itu tidak ada perempuan sama sekali tentu tidak akan dia tergoda berbuat dosa atau kesalahan dengan perempuan. Sebaliknya orang yang berada di dekat perempuan tentu bisa bahkan mudah tergoda untuk berbuat dosa atau kesalahan yang berkenaan dengan perempuan, atau bahkan berbuat dosa atau kesalahan dengan perempuan itu sendiri.
Orang yang sungguh-sungguh saleh itu meskipun berada di dekat penggoda tetapi tidak berbuat dosa atau kesalahan. Orang saleh itu belum tentu pemimpin agama, tetapi bisa terjadi orang biasa saja. Yaitu, orang yang berdagang tetapi tidak menipu dan tidak mengampil keuntungan berlebihan, cukup sebagai pengganti ongkos angkut, ongkos produksi, dsb, bahkan bersedia membantu dengan uangnya atau nasihatnya agar orang lain juga bisa maju dalam berdagang. Yaitu orang yang bergelut di bidang politik tetapi jujur, terbuka, rendah hati, bekerjasama dengan siapa pun sebab yang menjadi tujuan kiprahnya adalah kesejahteraan bangsa dan negara, bukan diri dan kelompoknya. Yaitu orang yang aktif dalam kegiatan budaya dan seni tanpa mengeksploitasi kenikmatan ragawi, khususnya seks, dan duniawi, khususnya dana dan kekayaan. Yaitu orang yang menjadi agamawan dengan mewujudkan sifat-sifat ilahi dalam hidup konkret setiap hari.
Orang yang saleh itu memang tidak mau berbuat dosa atau salah. Orang saleh itu bahkan bisa menjadi suluh, tanpa harus berkata apa pun. Kehadirannya telah menjadi penerang bagi orang yang sedang berada dalam kegelapan. Sehingga yang salah menyadari kesalahannya lalu bertobat. Yang sedih menyadari harga mulia hidupnya sehingga dengan sengaja meninggalkan kesedihan dan berubah menjadi orang yang bergembira. Yang sedang memikul beban merasa dikuatkan sehingga tidak putus asa dan bersemangat mengalahkan beban derita.
Orang saleh, kalau berada bersama dengan orang saleh akan saling menguatkan, memurnikan dan memampukan sehingga semakin bertumbuh dalam kesalehan, mudah menyadari kesalahan, dan meskipun tidak menjadi tujuan tetapi makin mampu menjadi suluh.

Ki Atma

HUKUM

Hukum, terlebih hukum agama, itu dilahirkan demi kemuliaan hidup manusia. Agar manusia menyadari keistimewaannya dibandingkan makluk lain dalam hubungan dengan Sang Khalik, dilahirkanlah hukum tentang ibadah. Agar manusia menyadari keistimewaannya dibandingkan makluk lain dalam kaitan dengan seks dan reproduksi dilahirkanlah hukum pernikahan. Demikian dan seterusnya.
Sesuai dengan tujuan, hukum itu harus dilaksanakan, bahkan pelaksanaannya itu harus dengan tegas. Siapa pun pelanggar harus dikenai sanksi atau hukuman. Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap hukum. Meskipun seorang penguasa kalau ia melanggar hukum mesti dihukum. Meskipun seorang yang lemah dan layak dikasihani, kalau ia melanggar hukum mesti dihukum.
Di Bilangan 15 : 32 – 36 terdapat kisah, seseorang yang pada Sabat mengumpulkan kayu api. Orang itu ditangkap lalu dimasukkan ke penjara sebab belum ada hukum yang jelas tentang boleh atau tidak orang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. Ternyata TUHAN memerintahkan agar orang itu dibunuh dengan jalan dilempari batu hingga mati. Sungguh hukuman yang tidak setimpal dengan dosa atau kesalahan orang itu, yaitu HANYA mengumpulkan kayu api. Mungkin orang itu akan memasak makanan agar di hari itu ia dan keluarganya tidak kelaparan. Akan tetapi hukum diberlakukan dengan tegas. Orang itu dibunuh secara kejam yaitu dilempari batu hingga mati. Sungguh ngeri.
Ribuan tahun kemudian setelah peristiwa itu, ada seorang pria yang dikenali berasal dari Nasaret, namanya Yesus, mengaku sebagai anak Allah, mengobrak-abrik hukum Sabat. Ia dengan santai dan nekatnya melakukan pekerjaan di hari Sabat. Para pemimpin agama, guru agama, Pejabat Bait Suci, para Tetua bangsa, semua marah kepada Yesus, sebab tradisi sudah tidak melakukan pekerjaan apa pun di hari Sabtah itu dipelihara ribuan tahun. Mereka yakin tradisi itu diperintahkan oleh TUHAN sendiri. Kini tradisi itu dirusak, dan sambil merusak tradisi itu Yesus mengaku dirinya adalah tuhan atas hari sabat, bahwa hari itu dibuat untuk manusia dan bukan sebaliknya manusia untuk hari Sabat.
Hukum yang diyakini berasal dari TUHAN sendiri, sudah dirusak oleh seseorang yang mengaku sebagai anak Allah. Dulu nyawa melayang karena melanggar hukum hari Sabat, sekarang nyawa dipelihara dengan melanggar hukum hari Sabat.
Bagaimana ini? ini bagaimana?
Dulu itu formasi. Demi membentuk bangsa yang berwatak maka hukum dijalankan dengan tegas. Memang akibatnya ada yang menjadi korban. Nyawa pun melayang. Namun dengan demikian watak bangsa terbentuk. Patuh dengan setia kepada TUHAN. Ketika hukum sabat itu telah menjadi tradisi, kehilangan kekuatan yang menggetarkannya yaitu pembangunan watak, revolusi dilakukan. Revolusi itu dijalankan demi terbentuknya watak, yaitu patuh dan setia kepada TUHAN, yang mewujud dalam penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. Formasi untuk membentuk watak patuh dan setia kepada TUHAN, revolusi untuk membentuk watak patuh dan setia kepada TUHAN. Yang membedakan adalah formasi membentuk watak ritual, patuh dan setia menjalankan ritus penyembahan kepada TUHAN, revolusi membentuk watak sosial, patuh dan setia menjalankan cinta kepada sesama sehingga sesama diperlakukan sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Ya, begitulah. Begitulah, ya.

Ki Atma

KERJA

Kerja, kerja, kerja. Itulah semboyan yang terus menerus didengungkan oleh Jokowi. Kabinet yang dibentuknya harus terus bekerja, bekerja dan bekerja.
Kerja adalah bergerak atau beraktivitas untuk menghasilkan. Sebaliknya adalah tidak bergerak atau beraktivitas yang menghasilkan. Mungkin memang bergerak atau beraktivitas tetapi tidak menghasilkan apa pun. Sebutan populer sebagai kebalikan dari kerja yang menghasilkan itu adalah luntang-lantung. Ke sana dan ke mari tetapi tidak ada akibat dari gerak atau aktivitas yang dilakukan. Gerak atau aktivitas yang dilakukan itu kerja atau bukan ditentukan atau bisa diukur dari hasil atau buah atau akibat yang ditimbulkan.
Kerja itu juga merupakan aktualisasi diri. Kerja itu tanda sifat bahkan jati diri seseorang. Orang yang tidak mau kerja, orang yang malas, adalah orang yang jiwanya kerdil. Ingin hidup enak dan senang tetapi enggan menanggung beban (Jawa: kangelan) apalagi berkurban. Orang yang bekerja ogah-ogahan, adalah tanda bahwa orang itu berjiwa lemah. Menghadapi kesulitan ia cenderung menyerah. Wegah mencari jalan mengatasi kesulitan. Orang yang rajin dan tekun bekerja adalah pemilik jiwa gagah-perkasa dan tangguh. Bukan hanya memikirkan diri dan keuntungan sendiri tetapi berbagi berkat dengan orang lain. Kesulitan bukan hambatan tetapi tantangan untuk dikalahkan. Orang yang bekerja atas perintah atau petunjuk orang lain itu berjiwa budak. Orang yang bekerja atas inisiatif sendiri adalah orang yang merdeka, mandiri dan kreatif.
Sesungguhnya setiap orang itu hakikat dirinya seperti garam dan terang. Garam itu bermakna, berarti, berfaedah, bermanfaat hanya ketika mengasini. Terang itu adalah sesungguhnya terang hanya ketika ia memberikan terang. Setiap orang itu adalah sungguh-sungguh orang ketika ia aktif melakukan kegiatan yang berpengaruh bagi orang lain, yaitu membawa kebaikan. Maka, semestinya semboyan kerja, kerja, kerja itu bukan hanya milik kabinet Jokowi, tetapi semboyan setiap orang.
Kerja, kerja, kerja adalah niat dan semangat untuk tidak menjadi NATO, Not action talk only, alias pencitraan dengan banyak omong tetapi tidak ada tindakan yang dilakukan. Dalam bahasa Jawa disebut Jarkoni, isa ujar ora isa nglakoni (pandai berbicara tanpa perbuatan).
Kerja, kerja, kerja adalah niat dan semangat untuk berbuat bukan hanya sekedar melihat lalu mencacat. Untuk berkurban dan bukan malah mencari keuntungan. Untuk memberi dan bukan justru mengambili, atau mencuri apalagi menggarongi.
Di kalangan umat Kristiani dan Hindu ada ajaran yang layak menjadi inspirasi untuk melakukan kerja, kerja, kerja yang memberkati. Di kedua agama itu ada keyakinan iman bahwa Sang Sesembahan Yang Mahamulia justru meninggalkan kemuliaan sorgawi dan turun ke dunia untuk bekerja, yaitu menyelamatkan dunia, membawa rahmat dan berkat sehingga dunia ini pulih menjadi dunia yang sungguh amat baik. Di kalangan umat Kristiani ada keyakinan iman tentang Yesus yang adalah Allah sendiri, berkenan menjelma menjadi manusia demi menyelematkan manusia dan dunia ini. Di kalangan umat Hindu ada keyakinan tentang Sang Wisnu, yang berkenan melakukan awatara, menjelma menjadi makluk demi menyelamatkan dunia ketika terancam kehancuran. Karya Yesus, demikian juga Sang Wisnu, layak menjadi inspirasi untuk kerja, kerja, kerja demi membagikan rahmat dan berkat ilahi sehingga dunia ini cantik (ayu, rahayu), indah berseri.

Ki Atma

PANCASILA AJA KANCASILA

Pancasila iku dhasaring negara lan uga falsafah urip tumrap bangsa Indonesia. Minangka dhasaring negara tegese madege negara lan bangsa Indonesia ini pondhasi utawa tetalese iku Pancasila. Mula tumindaking negara, kebijakan-kebijakaning negara kuwi kudune nyihnakake utawa mencerminkan Pancasila. Dene minangka falsafah uripe bangsa Indonesia ateges saben warga negara Indonesia kudune duwe wewatekan Pancasila.
Dening Orde Baru Pancasila iku diandharake jlentreh tharik-tharik, yaiku sing disebut butir-butir Pancasila. Maksude supaya diamalake, temah dadi pakulinaning urip lan srana mengkono uga dadi wataking saben warga negera Indonesia.
Eman dene sanadyan Orde Baru getol banget ngumandhangake Pancasila nanging tumindaking negara, kebijakan-kebijakane negara akeh sing ora nyihnakake Pancasila. Mirunggane ing babagan politik, ing pambudidaya nata negara, kang ditindakake dudu prinsip-prinsip kang ana ing Pancasila, nanging Kancasila. Pakulinan ngono kuwi terus kebanjur-banjur nganti tekan seprene.
Kancasila kuwi tegese kanca jagongan, yaiku wong-wong kang cedhak utawa malah raket sesambungane. Istilah kang populer KKN, cekakan saka korupsi, kolusi lan nepotisme.
Yen anggone mranata negara kuwi ditindakake srana sila-sila Pancasila negara dadi adil lan makmur, raharja lair batin. Nanging sarehne sing ditindakake kuwi prinsip Kancasila, mula dadine mung wadhuke dhewe lan kanca-kancane sing kebak. Wong liya, golongane wong kang beda apamaneh pancen sing dianggep lelawanan ora direwes, malah kepara diinyak-inyak.
Ing bab wewatekan, akeh warga bangsa Indonesia ini sing wateke Kancasila, dudu Pancasila. Yen wewatekane Pancasila, mesthi dha duwe toleransi, malah ngluwihi toleransi sing ditindakake kemanusiaan yang adil dan beradab. Kabeh uwong kuwi padha ajine karo awake dhewe, mula uga ditanduki persis kaya awake dhewe. Yen aku rumangsa butuh duwe papan pangibadah, mesthine wong liya uga butuh papan pangibadah. Mula uga mikirake lan mbudidaya supaya wong liya duwe papan pangibadah, padha persis karo awake dhewe sing uga duwe papan pangibadah. Emane sing racake ditindakake kuwi Kancasila, mula wong agama liya dianggep dudu kanca, dudu sedulur, malah kepara mungsuh. Ana wong ngagama tertemtu malah ora dianggep ngagama. Mirunggane wong kang ngrasuk kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa. Sarehne ora dianggep ngagama, mula ya ora perlu duwe papan pangibadah. Yen arep ngedegake kudu dialang-alangi. Malah isa klakon nadyan tunggal agama nanging yen beda aliran utawa dhenominasi utawa mazab uga ora dianggep kancasila, mula uga disirik, malah dimusuhi.
Sanadyan durung sampurna, nanging pemerintahane Jokowi saiki iki ana tandha-tandha ngecakake sila-sila Pancasila, dudu Kancasila. Mathuke para kawula (rakyat) uga saya nduweni wewatekan Pancasila dudu Kancasila, temah kang diecakake ing uripe sila-sila Pancasila. Muga-muga ing sabanjure para elite ing negara ini pancen wani malah kendel mranata negara kanthi ngetrapake sila-sila Pancasila.

Ki Atma

ZIARAH

Dahulu tidak ada orang Kristiani yang melakukan ziarah ke tanah Israel. Dekade belakangan ini banyak orang Kristiani yang melakukannya. Ada kebanggaan tertentu dapat pergi ke Israel lalu mengunjungi situs-situs yang berkaitan dengan kekristenan. Akan tetapi tiga hari yang lalu tersiar kabar bahwa Pemerintah Israel melarang turis dengan passport Indonesia masuk ke wilayah Israel. Mereka yang akan melakukan ziarah ke Israel terhalangan dan batal.
Sebagai obat kekecewaan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menawarkan wisata ke LAI untuk menyaksikan dan mendapatkan berbagai macam informasi yang berkaitan dengan Alkitab. Dengan tawaran ini ziarah ke situs-situs diganti dengan ziarah ke dokumen-dokumen, yang tentu saja tidak kalah penting dibandingkan dengan situs-situs di Israel, dalam memelihara warisan iman Kristiani.
Orang-orang tertentu melakukan ziarah untuk mendapat berkat khusus dari yang dijadikan tujuan ziarah itu. Setiap hari berbondong-bondong orang melakukan ziarah ke pusara Gus Dur, di antara mereka itu ada yang mengharapkan berkat Allah melalui Gus Dur, meskipun Gus Dur sudah berada di alam kekekalan. Istilah Jawa-nya “ngalap berkah.” Demikian pula orang yang melakukan ziarah ke Kadilangu, ke kubur Sunan Kalijaga, dan situs-situs tertentu lainnya.
Saya tidak tahu apa tujuan orang Kristiani melakukan ziarah ke Israel. Katanya ada yang memperbarui pernikahan mereka di desa Kana. Yang jelas, saya mendapat oleh-oleh dari dua orang yang pernah melakukan ziarah ke Israel. Yang satu memberi saya minyak zaitun. Sambil memberikan ia berkata bahwa minyak zaitun itu sangat baik untuk urapan. Karena saya tidak pernah melakukan urapan maka minyak itu hanya saya simpan. Yang satu lagi memberi saya anggur dari desa Kana. Seperti minyak zaitun, anggur itu juga hanya saya simpan saja.
Ziarah, entah dengan tujuan apa, agaknya sangat dibutuhkan dan makin hari makin banyak orang yang melakukan ziarah. Di lingkungan umat Kristiani, sekarang bukan hanya Sendang Sono yang menjadi tujuan ziarah, tetapi juga beberapa sendang lain. Belakangan juga lahir gua Maria yang menjadi tujuan ziarah. Di lingkungan Gereja Kristen Jawa (GKJ) hanya ada satu situs yang menjadi tujuan ziarah, yaitu rumah Kyai Sadrach di Karangjoso, Kutoarjo. Tidak banyak orang berziarah ke Karangjoso. Mengapa? Saya juga tidak tahu, padahal beberapa pendeta GKJ dan mungkin cukup banyak warga GKJ yang pernah melakukan ziarah ke Israel.

Ki Atma

CINTA YANG MEMBINASAKAN

Sore yang indah, Batara Guru sedang bersama dengan isterinya, Dewi Uma, mengendarai kendaraan kesayangan, Lembu Andini, yang terbang di atas samudera. Mereka berdua sedang menghibur hati (Jawa: ngenggar-enggar penggalih). Tiba-tiba kain Dewi Uma tersambar angin sehingga tersingkaplah betis sang dewi yang sangat cantik jelita itu. Batara Guru yang melihat itu pun bangkit nafsu birahinya. Lalu ia mengajak dewi Uma bermain cinta. Akan tetapi, dewi Uma tidak bersedia. Berulang kali didesak, dewi Uma tetap menolak. Birahi Batara Guru bukan berkurang karena ditolak, tetapi semakin menggejolak. Karena tak tertahankan air benih Batara Guru menetes dan jatuh ke samudera. Meskipun hanya benih, tetapi karena air benih itu berasal dari raja para dewa, maka makluk baru terlahirlah. Air samudera menggelegak bergolak terjatuhi air kama itu, dan dari dalam air itu pun muncul raksasa. Itulah Batara Kala. Raksasa yang rakus dan tidak pernah bisa kenyang. Ia memakan apa saja. Agar tidak memusnahkan dunia maka ia dibatasi hanya boleh memakan makluk yang “sukerta” yaitu yang kotor dan tidak lazim, dan “aradan” yaitu yang melakukan kelalaian.
Batara Guru tentu sangat mencintai dewi Uma, isterinya. Berahi, air benih adalah sarana kelengkapan cinta itu. Akan tetapi, ternyata cinta itu melahirkan raksasa yang rakus dan tidak pernah puas. Cinta yang “salah kedaden” (salah dalam penciptaan) ternyata mengakibatkan bencana atas jagad raya.
Dua gadis kecil kakak beradil, anak pasangan Bp. Dita dan Ibu Puji: Fadhila Sari dan Famela Rizkita, dapat dipastikan adalah gadis kecil yang kalau disuruh memilih secara wajar lebih suka bermain boneka daripada bom yang membunuhnya. Bahkan dikisahkan Rizkita yang duduk di kelas 2 SD itu, antusias ketika di kelas diajak membahas toleransi beragama. Lalu, untuk apa (ter)dilahirkan kalau di umur yang masih sedemikian ranum harus mati bunuh diri seraya membunuh orang-orang lain?
Dua lelaki kecil kakak beradik, putra pasangan Bp. Heri dan ibu Wenny yang tabah itu: Nathan dan Evan, dapat dipastikan lelaki kecil yang memiliki cita-cita. Akan tetapi, harapan nya harus pupus, cita-citanya harus sirna bersamaan dengan raganya yang terkena akibat bom bunuh diri.
Di tengah bergemanya warta hilangnya hidup beberapa anak kecil di Surabaya, menyeruak kabar 34 uskup Chile mengundurkan diri karena dugaan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Warta yang menambah kepedihan hati atas pelecehan seksual terhadap anak-anak yang marak terjadi di berbagai belahan dunia. Semua itu menambahkan perihnya hati karena terjadinya perdagangan anak-anak di mana-mana.
Kemarin, seorang pendeta muda berkisah. Ketika ia sedang makan di sebuah warung, datang seorang ibu dengan anaknya yang masih kecil. Melihat ada orang yang makan di warung itu, si anak bertanya kepada ibunya “mengapa di bulan puasa begini, orang itu makan?” dan ibunya menjawab “ya, begitulah kalau orang kafir, tidak berpuasa.” Pendea muda itu terperangah, tetapi hanya bisa diam, sebab tidak ada kesempatan baginya untuk menjelaskan. Kata-kata ibu itu tidak ibahnya kama Batara Guru yang karena cintanya kepada dewi Uma tidak terlampiaskan, malah jatuh ke laut dan menjadi Batara Kala, raksasa rakus dan tidak pernah bisa kenyang itu.
Cinta ternyata bisa membinasakan. Ketika cinta itu tidak terkendalikan. Ketika cinta itu berupa kehendak untuk memiliki, bahkan untuk menguasai. Ketika cinta itu memaksa.

Dewi Uma tertunduk lesu di pinggir sebuah kali yang hampir kering karena musih kemarau panjang. Kain nya sudah basah oleh air mata. Namun, air mata itu terus menetes deras, dan kain dewi Uma mulai berwarna merah, ternyata air matanya telah menjadi air mata darah.

Ki Atma

DASAMUKA

Dasamuka iku raja Ngalengka, angkara murka, senengane ngrerusak, nyikara wong ora luput, malah gawe pepati tanpa pawadan. Sing nggegirisi Dasamuka kuwi duwe aji Pancasona. Sapa sing duwe aji Pancasona iku ora bisa mati angger kambah lemah. Nadyan ragane ajur mumur, nanging angger kambah lemah, cuwilan-cuwilan raga iku mau banjur padha manunggal lan uwonge urip maneh. Mangkono Dasamuka bola-bali kena panah “guna wijaya” kang dilepaske dening prabu Ramawijaya temah mati, nanging saben Dasamuka mati, mesthi isa tangi urip maneh. Pepuntone Anoman njebol gunung Sumawana, lan pas Dasamuka mati kena panah “guna wijaya” trus diemblegi gunung Sumawana dening Anoman. Mula nadyan Dasamuka isa urip nanging ora isa obah awit awake sakojur kemblegan gunung Sumawana. Nanging Dasamuka kerep gawe pokal temah ucul saka gunung Sumawana, trus ngamuk ngrerusak jagad. Angger kedadeyan mangkono, Anoman cepet tumindak, nyekel lan nyeret Dasamuka trus diemblegi gunung Sumawana maneh.
Dhek dina Minggu, 13 Mei, wingi Dasamuka ucul saka gunung Sumawana banjur ngamuk neng Surabaya. Njebluge bom neng pirang-pirang enggon. Neng greja telung panggonan, lan uga neng mapolrestabes Surabaya. Anoman dheleg-dheleg. Anoman menyat, naliti gunung Sumawana, nggoleki apa kang bisa njalari Rahwana ucul. Anoman nemokake sawetara lowongan kang bisa dienggo krugat-kruget dening Dasamuka lan suwe-suwe ucul saka tindhihaning gunung Sumawana.
1. Jebule ana bolongan gedhi wujud wulangan agama fanatik. Bom-bom kuwi dha dijebluge dening wong kang nggugu marang piwulange para wong kang mulangake agama, kang kanthi sengaja mulang yen wong kuwi kudu fanatik. Wulangan kudu fanatik ngono kuwi wis suwiii mula trus wis ngoyod. Akeh wong kang yakin yen wong ngagama kuwi kudu fanatik. Kandhane: “fanatik marang agamane dhewe, ning toleran tetepungan utawa pergaulan”
Fanatik kuwi sajatine beda banget karo “manteb ing pracaya.” Fanatik kuwi sajatine ateges “tutupan.” Saliyane sing diduweni wis ora ana liyane. Iki padha karo “celeng picak” utawa “membabi buta.” Wong fanatik ora bisa toleran marang wong liya.
Fanatik kuwi beda banget karo “manteb ing pracaya.” Wong kang “manteb ing pracaya” kuwi nggegegi sing diduweni, ning ya ngakoni yen ana liyane. Pindha wong bebojoan, wong “manteb ing pracaya” kuwi nganggep yen bojone ayu, apik, lsp. ning ya ngakoni yen wong wedok liya ya ayu, apik, lsp. Isa klakon luwih ayu, apik, lsp. Nanging ora kepingin nduweni wong wedok liyane, nadyan wong wedok liyane luwih ayu, luwih apik, lsp sebab wis milih wong wedok sing dadi bojone kuwi mau. La nek wong fanatik kuwi nganggep yen bojone sing paling ayu trus wong wedok liya kudu dipateni, diilangi. Mulane, wong ngagama kuwi kudune “manteb ing pracaya” ning aja fanatik.
Muga-muga wiwit saiki saben guru agama dha mulangake piwulanging agama ning ora ngajari lan ngajaki dadi wong fanatik, Ngajari lan ngajaki manteb ing pracaya ning ora dadi celeng picak (membabi buta).
2. Neng sebelahe bolongan gedhi wujud wulangan agama fanatik kuwi mau ana bolongan gedhi liyane, wujud tumindak mban cindhe mban ciladan (diskriminatif). Pemerintah kuwi gawe pranatan kabeh uwong kudu ngagama, la ning ana wong ngagama tertemtu sing gampang banget nindakake agamane kalebu gampang gawe papan pangibadah, ning ana wong ngagama tertemtu liyane sing angel nindakake agamane kalebu angel gawe papan pangibadah. Pancen ora kabeh pejabat pemerintah nindakake pakarti mangkono, nanging racake dha tumindak mban cindhe mban ciladan kuwi mau.
Nadyan ora diakoni nanging pejabat pemerintah kerep ketara banget mbelani sijine lan ngiwakake liyane. Sanadyan kerep sesorah perlune toleransi, lsp nanging pejabat pemerintah dhewe ngetokake ora toleran marang wong ngagama tertemtu. Mula toleransi ya kerep mung dadi omongan nanging ora kelakon.
Wis kerep kelakon yen ana wong ngagama tertemtu arep ngedegake papan pangibadah, trus ana kelompok sing ora setuju, pejabat pemerintah malah nyetujoni kelompok kuwi mau. La piye arep toleran wong tumindak ora toleran disetujoni pejabat pemerintah.
Muga-muga wae pejabat pemerintah gelem lan wani nglakoni tumindak toleran kanthi temenanan. Yen dha toleran, terorisme, fantisme mesthi ora isa urip ing bumi Indonesia.

Anoman mung dheleg-dheleg.

Ki Atma

BAHASA CINTA

Di sebuah akun fb, pemilik akun mengunggah foto seseorang yang mengandari sepeda motor dan di bagian belakang, tempat yang biasanya untuk memasang plat nomor, tergantung tulisan “Teroris jancok nggarai dodolan sepi cook….”
Agaknya akibat tragedi bom di Surabaya itu para pedagang kecil mengalami kerugian sebab sepi pembeli. Kalau mall sepi pengunjung, mungkin tidak terlalu terasa, tetapi bagi pedagang kecil yang keuntungan hari itu untuk makan besok pagi, sepinya pembeli sangat terasa sekali. Padahal keuntungan yang didapat itu sangat diharapkan oleh isteri dan anak-anaknya. Ungkapan kesal itu, dengan demikian sangat wajar.
Di akun fb yang lain, pemilik akun itu menuliskan “Dia (Wenny, ibu dua anak yang menjadi korban peledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela), ingin meneladani Bunda Maria yang anak satu-satunya di siksa dan disalibkan untuk menebus dosa kita manusia.” Pasti yang dimaksudkan oleh pemilik akun itu dengan sebutan “anak satu-satunya” adalah Yesus, putra Bunda Maria. Penyebutan “anak satu-satunya” itu hanyalah salah tulis saja, tentunya. Yesus memang anak Maria, tetapi bukan satu-satunya, sebab setelah Yesus dilahirkan, Maria melahirkan beberapa anak (di Alkitab tidak disebut siapa saja).
Di beberapa harian memang diwartakan bahwa ibu Wenny memaafkan pelaku bom bunuh diri yang telah merenggut nyawa kedua anaknya dan ia ingin meneladani sifat welas asih Bunda Maria. Demikianlah ketegaran hati ibu Wenny itu adalah pantulan keyakinannya tentang sifat welas asih Bunda Maria.
Pedagang yang mengungkapkan kejengkelan dengan menyebut teroris jancok, dan ibu Wenny yang memaafkan teroris yang membunuh kedua anaknya, adalah orang-orang yang sangat mencintai anak-anaknya. Ungkapan mereka memang berbeda. Tidak perlu dinilai mana yang lebih baik. Penilaian itu selalu cenderung hitam-putih, padahal kenyataan hidup itu tidak selalu hitam-putih. Bisa juga abu-abu, antara hitam dan putih. Keduanya layak untuk diamati tanpa penilaian.
Ungkapan kejengkelan pedagang itu adalah pertanda ia tidak rela anak dan isterinya menderita karena tidak ada uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Inilah bentuk cinta yang membela dan melindungi. Tidak jarang dapat ditemukan ada orang yang berani mempertaruhkan nyawa untuk melindungi dan membela keluarganya. Bukan hanya mengungkapkan kejengkelan, tetapi juga berani beradu nyawa demi cintanya kepada anak dan isteri itu.
Ungkapan ibu Wenny bahwa ia memaafkan teroris karena ia ingin memiliki sifat welas asih sebagaimana Bunda Maria, adalah pertanda ia bersedia melupakan dosa-kesalahan orang lain. Inilah bentuk cinta yang memaafkan dan mengiklaskan. Duka dan lara pasti masih dirasakan, tetapi ia bergerak maju meninggalkan duka dan lara itu menuju ke penyembuhan hati dan jiwa, yaitu dengan cinta yang memaafkan dan mengiklaskan itu.

Ki Atma

KARTINI-AN

Di harian Pikiran Rakyat, 17 Maret 2017, dimuat berita bahwa tingkat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat ke 60 dari 61 negara yang dijadikan survey oleh Central Connecticut State University pada 2016, dengan judul penelitian “Most Literate Nation in the World.” Hasil itu kemudian dipublikasikan oleh Unesco.
Kenyataan yang terungkap lewat survey itu sejatinya sangat membuat pilu. Hati sangat sedih dan sakit seperti teriris sembilu. Di satu pihak, anak bangsa ini ada bahkan cukup banyak yang cerdas dan cemerlang pemikirannya. Akan tetapi, di pihak lain, minat baca masyarakat sangat rendah. Artinya, terlalu banyak anak bangsa ini yang tidak memiliki minat untuk membaca, dan dengan demikian kemampuan menulisnya juga jelek. Kabar tentang adanya jasa membuat skripsi dan adanya plagiasi untuk mendapatkan gelar sarjana bahkan untuk gelar doktor, adalah contoh kenyataan jeleknya kemampuan menulis.
Kata kunci penyebab semua itu adalah kurang atau bahkan tidak ada MINAT.
Betapa bedanya para anak bangsa sekarang ini, yang hidup di masa tidak terjajah bangsa lain (asing), dengan Kartini. Para anak bangsa sekarang ini sebenarnya sangat dimanjakan dengan berlimpahnya bahan bacaan. Buku, e-book, jurnal, laporan penelitian/survey, harian, majalah, buletin, dll. tersebar. Akan tetapi, para anak bangsa sekarang ini kurang bahkan tidak memiliki MINAT baca. Sedangkan Kartini, yang hidup di akhir abad 19, ketika bacaan masih langka, terlebih lagi Kartini itu dikurung di dalam kamar, “dipingit,” namun ia mampu menuliskan berbagai pokok pikiran (topik). Tulisan Kartini juga dimuat di majalah wanita De Hollandsche Lelie. Yang paling terkenal buah tulisannya adalah kumpulan surat-menyurat yang kemudian diterbitkan sebagai buku “Habis Gelap terbitlah terang.” Kemampuan menulis itu dapat dipastikan karena Kartini memiliki MINAT baca. Salah satu buku yang digemarinya adalah “Max Havelar” karya Multatuli, yang nama aslinya adalah Eduard Douwes Dekker. Kartini yang dipingit tetapi tetap saja bisa “mencuri” untuk membaca dan menulis.
Kartini sudah terlanjur lebih diperkenalkan sebagai pejuang emansipasi wanita. Yang lebih menyedihkan sekarang ini Kartini lebih diperingati HANYA dengan berkebaya dan bersanggul. Yungalahhh. Meskipun Kartini memang berjuang keras untuk melawan feodalisme dan patriarchalis, namun sesungguhnya yang lebih menonjol dari diri ibu Kartini adalah kebebasannya berfikir. Oleh sebab itu, sosok Kartini semestinya dijadikan inspirasi kebebasan berpikir yang mewujud dalam budaya membaca dan menulis. Memperingati Kartini, dengan demikian, semestinya bukan perihal berdandan dan berpakaian melainkan perihal menumbuh-kembangkan budaya membaca dan menulis sebagai latar belakang (cikal bakal) dan pemupuk kebebasan berpikir.
MINAT membaca dan menulis itu mesti dimulai sejak anak masih “merah.” Bayi layak diperkenalkan dengan kertas. Memang kertas itu akan dirobek-robek, namun dengan demikian si bayi mulai mengenal dan nantinya, seiring dengan pertumbuhan usia dan kemampuannya, akan merasa akrab dengan kertas dan kertas bertulisan. Keakraban itu merupakan cikal bakal kegemaran (minat) membaca. Orang tua juga mesti selalu membacakan buku untuk anaknya, yang belum bisa membaca, sehingga menimbulkan kebiasaan membaca ketika anak itu sudah bisa membaca. Ya, keluarga, orang tua, memang memegang peran penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan minat baca anak.
Sudah saatnya hari Kartini bukan dirayakan dengan berdandan dan berpakaian, melainkan dengan membaca dan menulis. Sudah saatnya Kartini ditokohkan bukan hanya dalam hal emansipasi wanita, tetapi terlebih lagi dalam hal kebebasan berpikir, menjadi orang yang sungguh-sungguh merdeka.

Ki Atma