Tentang Kami

Asal mulanya:

  • Hingga kini belum/tidak ada gereja/komunitas Kristen atau pendeta yang dengan sengaja mendirikan pesantren, padahal pesantren itu adalah methode kaderisasi atau pembinaan atau pendidikan warisan leluhur. Oleh Ki Hajar Dewantara methode ini dirumuskan “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” dan “silih asih, silih asuh, silih asah.”

Ide Dasar

Pengaderan atau pembinaan gereja berada di masa gawat sebab tidak dijalankan secara berkesinambungan, lebih bersifat kognitif dan cenderung terjebak kepentingan/kebutuhan pragmatis-praktis.

GKJ Purwodadi menetapkan visinya adalah “gereja itu berada di dunia tetapi bukan berasal dari dunia. Di dunia gereja diutus oleh Tuhan Yesus untuk mewujudkan Kerajaan Allah” sedangkan misinya adalah “menjadi gereja yang berakar di dalam masyarakat dan budaya yang hidup di lingkungan gereja untuk mempersembahkan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah.” Diungkapkan dengan cara lain misi ini adalah “bersama dengan siapa pun juga memperjuangkan semakin pulihnya harkat dan martabat manusia sebagai gambar dan citra Allah dan alam raya sebagai Firdaus.”

Ayat panduan visi dan misi yang dipilih adalah Lukas 4 : 18 – 19: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Ide mendirikan padepokan sudah mulai mengemuka sejak 1996, tetapi sarana dan prasarana belum dimiliki. Ide itu diwujudkan oleh keluarga Ki Atma dengan menampung para anak yang ingin meneruskan sekolah ke jenjang SMP atau SMA/SMK tetapi tidak mempunyai biaya. Mereka dibiayai hidup dan sekolahnya oleh keluarga Ki Atma. Ketika Ki Atma berumur 60 tahun gereja memberi sebidang tanah yang terletak di Jalan Cempaka II nomor 3, yang dibeli oleh gereja dari ibu Siti Suyati. Tanah itu dibeli dengan harga yang ditetapkan sendiri oleh pemilik, dan ternya20120725_114313ta harga yang ditetapkan itu sangat murah. Meskipun tanah itu dibeli namun juga dapat disebut merupakan persembahan keluarga ibu Siti Suyati. Di atas tanah itu keluarga Ki Atma mendirikan bangunan yang dikelilingi kolam-kolam untuk memelihara ikan. Setelah mama Elizabeth Lita Wuryani (isteri Ki Atma) meninggal pada 30 Januari 2013 maka para cantrikwati yang semula tinggal bersama keluarga Ki Atma di pondok (pastori) di Jalan Kenanga 12 Purwodadi, dipindahkan tinggalnya di bangunan yang telah dibuat di di Jalan Cempaka II nomor 3 itu. Bangunan itu disucikan atau diresmikan penggunaannya pada 12 April 2013 dan bangunan itulah yang menjadi tempat tinggal para cantrikwati padepokan MARDIKA,

 

Yayasan Padepokan Mardika

Padepokan MARDIKA merupakan Yayasan yang badan hukumnya didirikan dengan akte notaries Endang Sri Wukiryatun, S.H, M.Kn tanggal 02 September 2014 nomor 7, dan disahkan oleh Menteri Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia Nomor AHU-06170.50.10.2104, tanggal 17 September 2014. Yayasan padepokan MARDIKA merupakan badan hukum yang mandiri, namun badan hukum ini mempunyai hubungan kuat bahkan sesungguhnya didirikan oleh GKJ Purwodadi, maka Pembina, pengawas dan pengurus Yayasan Padepokan MARDIKA yang dipilih/ditunjuk harus mendapat persetujuan Majelis GKJ Purwodadi.

Karena sarana dan prasarana yang belum mencukupi padepokan MARDIKA baru bisa menerima cantrikwati (wanita). Di harap bangunan lain dapat didirikan untuk menampung cantrik (pria).

Filosofi:

Rumah bagi yang ingin bersekolah setingkat SMP/SMA/SMK tetapi tidak mempunyai biaya dan mau bekerja keras untuk mewujudkan harapan dan cita-cita.

Cita-cita/arah pelayanan Padepokan Mardika:

Cita-cita atau arah pelayanan dan sekaligus proses yang dijalankan

Padepokan MARDIKA melakukan pelayanan membina/mendidik agar para cantrik.cantrikwati:

  1. Menjadi orang yang memiliki spiritualitas ilahi. Spiritualitas adalah praksis atau praktik hidup konkrit. Menyadari memiliki sifat-sifat ilahi dan lebih mengetengahkan sifat-sifat ilahi itu dalam hidup sehari-hari.
  2. Menjadi orang merdeka: yang tidak mau dijajah, tidak mau menjajah, tidak membiarkan terjadinya penjajahan.
  3. Menjadi orang mandiri: membutuhkan orang lain tetapi tidak tergantung pada orang lain
  4. Menjadi orang yang kreatif: tidak mengenal putus asa dan selalu memiliki kecenderungan mencipta
  5. Menjadi orang yang mencintai alam

Badan Hukum

Yayasan Padepokan Mardika berbadan hukum No. AHU-0005926.50.80.2014 tanggal 17 September 2014

Pengurus:

Pembina

  • Tyas Budi Legowo, Pdt
  • Christian Pastaya

Susunan pengurus

Ketua Umum           : Paulus Pudjapriyatma, pdt
Ketua                         : Dwi Ariyanto, pdt
Sekretaris Umum   : Rudie Ariwibowo, S.E
Sekretaris harian    : Yanne Erikha Sari
Bendahara Umum  : Priyani Eni Lidya, S.Pd
Bendahara                : Suyahning
Pengawas                  : Djoko Sungkono
Bambang Dwi Setyoharso

Pelaksana harian/among cantrik

Ketua Harian                          : Tri Winarti
Logistik                                    : Sri Windarti
Hubungan dengan sekolah  : Sudibyo (SMPK), Nugroho Tatok                                                                (SMKK), Eko Ruwanti (SMAK)
Bendahara harian                  : Sunyahning
Ibu Asrama                              : Lasiyem

Penunjang

Pemanfaatan Kolam&Kebun

Ketua                       : CH. Pastaya

Anggota                   : Widyo Rumekso, Sumarno, Mbah Darpin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *