Meniti Cita Menjadi Guru (pengalaman Adwita Mariyana)

Saya Ita atau orangtua saya memberi nama kepada saya; Adwita Mariyana. Sejak lulus SMP hingga memasuki masa kuliah saya nyantrik di Asrama Putri Padepokan Mardika. Kini saya adalah mahasiswi semester 4 program studi Pendidikan Ekonomi di Teacher’s College – Universitas Pelita Harapan, Karawaci Tangerang selanjutnya saya sebut UPH). Betapa beruntungnya saya karena bisa meniti cita-cita sebagai guru ekonomi kelak, karena lolos seleksi penerima beasiswa penuh dari UPH. Itu semua tak lepas dari dukungan para pengurus Yayasan Padepokan Mardika, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah; selain tentu saja orangtua yang secara penuh mendukung pendidikan saya.

Pendidikan Karakter di Asrama TC UPH dan Padepokan Mardika

Sebagai penerima beasiswa dan mahasiswa di TC UPH berarti tinggal di Asrama Teacher’s College (TC) karena Yayasan Pendidikan Pelita Harapan mewajibkan semua penerima beasiswa untuk tinggal di asrama selama menjalani perkuliahan. Untunglah jauh dari orangtua karena sekolah dan tinggal di Asrama sudah saya jalani sejak SMK.  Menjadi anak asrama semakin memupuk jiwa mandiri apalagi asrama di TC UPH memiliki program-program yang semakin mengasah karakter pribadi setiap mahasiswanya.

Sebelum berlanjut, saya akan bercerita lebih dahulu tentang asrama saya dahulu. Semasa SMK saya tinggal di asrama yang lebih sering disebut dengan Padepokan Mardika. Asrama ini berada di tengah kampung, Cempaka II, Purwodadi, Grobogan. Tinggal di asrama berarti hidup dengan peraturan-peraturan. Peraturan yang diberikan tidak membuat saya merasa ditekan tetapi membuat saya semakin disiplin dan bertanggungjawab. Kegiatan asrama membuat kami terlatih dan lebih menghargai kesempatan yang Tuhan berikan. Sebagai kakak tertua di Padepokan Mardika membuat saya harus bisa mengayomi adik-adik saya, memberikan contoh yang baik untuk mereka dan mereka membuat saya dewasa. Hidup di asrama tidak selalu penuh dengan tekanan, banyak orang menilai jika tinggal di asrama seperti dalam “penjara”, itu salah besar. Kehidupan yang dijalani di asrama membuat saya sendiri belajar bagaimana menghargai orang lain, bagaimana bersikap sopan santun, dan tidak membedakan ras, suku, dan agama.

Pengalaman ini juga yang saya bawa ketika tinggal di asrama TC. Kehidupan di sini tidak jauh beda dengan di Padepokan Mardika. Banyak pengalaman yang membuat saya semakin bersyukur karena diberikan kesempatan untuk berasrama di Padepokan Mardika. Hidup berasrama bagi saya sangat bermanfaat, seperti sekarang ini saya tinggal di kamar dengan 12 orang dari berbagai daerah seperti Papua, Batak, Melayu dengan karakter dan sifat yang sangat berbeda. Hal ini membuat saya bisa menghormati, menghargai, dan saling mengasihi tanpa melihat dari mana kita berasal.

Kesan saya selama tinggal di Padepokan Mardika, saya berterima kasih kepada semua Pembina Asrama karena saya belajar banyak dari setiap pengajaran yang diberikan. Saya juga berharap dengan adanya Padepokan Mardika lebih banyak terbuka kesempatan untuk bersekolah dan mendapat sekolah yang baik. Semoga berkat yang diberikan oleh Tuhan melalui Padepokan Mardika dapat juga dilanjutkan oleh orang lain. Menurut saya peraturan yang telah ditetapkan di Padepokan Mardika tidak perlu diubah atau diganti, mengapa? Karena peraturan tersebut masih terbilang mudah dan tidak terlalu“kejam” dibanding di asrama saya sekarang. Di asrama saya sekarang peraturan dibuat sangat detail dan jika melakukan pelanggaran tidak ada toleran apabila pelanggaran yang dibuat melebihi batas.

Sebagai mahasiswa keguruan saya menyadari bahwa pendidikan sangat penting bagi kita, dengan adanya Padepokan Mardika mereka terbantu untuk mewujudkan cita-cita untuk bersekolah.

Pesan saya, selagi masih bisa tinggal di asrama atau Padepokan Mardika kerjakanlah apa yang menjadi bagian kalian, nikmatilah tinggal bersama saudara-saudara yang belum pernah kalian ketahui sebelumnya karena saat-saat itulah saat di mana kalian akan merindukannya. Kalian tidak akan merasa dirugikan ketika kalian pernah tinggal di asrama karena kalian akan merasa bangga dan bersyukur. Semoga cerita ini memberkati orang lain.

Demikian cerita saya. Terimakasih. Tuhan Memberkati. Semangat Padepokan Mardika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *