NYALA API


Orang menyalakan api itu untuk menerangi dan memanaskan, bukan untuk ditutupi dan disembunyikan. Kalau pun ada orang yang bertindak gila, menyalakan api lalu menutupi, ia tidak akan berhasil sebab sinar nyala api itu akan tetap menerobos lubang sekecil apa pun yang ada lalu menyeruak keluar dan memberikan sinarnya ke dunia di luar penutup itu. Kalau pun ada orang yang bertindak aneh, menyalakan api lalu menyembunyikannya, ia hanya melakukan perbuatan sia-sia sebab sinar nyala api itu pasti akan memperlihatkan diri. Kalau tidak begitu, nyala api itu padam, mati, tanpa sinar sama sekali.
Setiap orang mestinya menjadi nyala api, dengan perbuatan baik dan budi pekerti luhur yang dilakukannya. Meskipun disembunyikan, ditutupi, namun perbuatan baik dan budi pekerti luhur itu tetap saja akan terwartakan. Tidak perlu orang yang berbuat baik dan berbudi pekerti luhur itu mempublikasikan perbuatannya. Orang lain, terlebih yang merasa menerima akibat dari perbuatan baik dan budi pekerti luhur itu pasti akan menceriterakan, sehingga akhirnya perbuatan baik dan budi pekerti luhur itu tersebar luas.
Memang ada orang dan sekelompok orang yang cenderung menutupi dan menyembunyikan nyala api, dan sebagai gantinya ia berteriak-teriak menyatakan sedang membaw obor yang menyala-nyala padahal yang disebutnya obor itu sudah lama padam, mati, tanpa sinar sama sekali. Begitulah orang yang hatinya kotor, niatnya jahat, menebar fitnah, mengumbar kebencian terhadap orang yang berbuat baik dan berbudi pekerti luhur.
Orang dan sekelompok orang itu tidak berhasil menutupi dan menyembunyikan nyala api, sebab tetap saja sinarnya terlihat oleh siapa pun. Fitnah dan kebencian yang disebar-sebarkan tidak berhasil menutupi kebaikan dan keutamaan.
Jadi hendak berpihak kepada siapa kah dirimu? kepada nyala api, atau kepada yang menutupi dan menyembunyikan nyala api? atau tetap memilih menjadi nyala api itu sendiri?. Ya, mari.

Ki Atma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *