ILMU dan IMAN

Ilmu dan iman itu sesungguhnya seperti dua tangan: kanan dan kiri. Keduanya itu berbeda tetapi semua dibutuhkan agar raga ini seimbang. Orang yang sedang berjalan, pasti tangannya dilambaikan. Kalau yang kanan ke depan, yang kiri ke belakang. Sebaliknya kalau yang kiri ke depan, yang kanan ke belakang. Dengan demikian raga menjadi seimbang.
Meskipun ilmu dan iman itu sesungguhnya dibutuhkan, tetapi seringkali terjadi keduanya itu dianggap berlawanan, bertentangan. Orang yang berkecimpung di dunia ilmu tidak peduli dengan iman, dan sebaliknya yang bertekun dengan iman enggan bahkan tidak mau memperhatikan ilmu. Karena anggapan bahwa keduanya berlawanan, bertentangan demikin itu maka banyak ilmuwan yang kemudian menjadi atau dianggap tidak percaya kepada Tuhan Allah, menjadi atheis. Salah satunya adalah Stephen Hawking yang baru saja meninggal. Bahkan ada pula teolog yang kemudian menjadi atheis.
Yang harus berbenah diri adalah lembaga agama. Kalau Kristiani, lembaga agama itu adalah gereja. Hingga sekarang lembaga agama, juga termasuk gereja, itu arogan, sok kuwasa. Semua harus tunduk dengan patuh kepada lembaga agama. Dalam hal apa saja. Kalau ada yang berani mempertanyakan dianggap akan murtad, melawan Allah. Apalagi yang memang terang-terangan melawan, bertentangan dengan lembaga agama itu, pasti dianggap iblis, maka layak dihukum dan kalau perlu dihukum mati. Peristiwa di abad 16 contohnya, ilmuwan Galieo galilei dan Copernicus, yang menyatakan bahwa bumi ini bulat dan bahwa bumi ini yang mengelilingi matahari, bukan sebaliknya matahari yang mengelilingi bumi, oleh lembaga agama diancam hukuman mati kalau tidak mau membatalkan pendapatnya itu. Padahal memang benar terbukti bahwa bumi ini bulat dan bahwa bumi ini yang mengelilingi matahari. Peristiwa demikian itu masih saja terjadi di jaman sekarang. Siapa pun yang mempunyai pendapat berbeda apalagi berlawanan dengan lembaga agama, pasti diancam hukuman. Itulah sebabnya para ilmuwan lebih memilih tidak beragama, menjadi orang atheis, agar tidak bisa dihukumi oleh lembaga agama.
Arogansi dan sok kuasanya lembaga agama itu karena merasa bahwa semua ajarannya pasti benar sebab didasarkan pada kitab suci yang diyakini sebagai Sabda Allah. Tentang hal ini, lembaga agama mesti juga berbenah diri. Kitab suci itu adalah petunjuk ke Tuhan Allah. Kalau ada orang yang menunjuk bintang dengan jari telunjuknya, semestinya jangan jari telunjuk itu yang diperhatikan dengan seksama, tetapi bintangnya. Jangan terpaku memperhatikan petunjuknya tetapi yang ditunjuk. Jadi, jangan kitab sucinya yang terlalu terpaku diperhatikan, melainkan Allah. Sayang yang sering terjadi justru lembaga agama terlalu terpaku memperhatikan kitab suci, bukan Allah.
Kalau lembaga agama tidak arogan, sok kuasa, dan tidak terlalu terpaku memperhatikan kitab suci, ilmu itu justru bisa menjelaskan dengan jelas rahasia Allah atas alam luas ini.

Ki Atma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *