KEBERUNTUNGAN

Tidak semua dan tidak selamanya kenyataan hidup itu menyenangkan atau membuat nyaman untuk dinikmati. Ada kalanya justru tidak nyaman, dan tidak menyenangkan.
Sebenarnya yang menentukan rasa nyaman atau tidak, menyenangkan atau tidak, itu bukan kenyataan hidup itu sendiri, melainkan sikap terhadap kenyataan hidup itu. Hati dan pikiran seseorang itulah yang menentukan rasa nyaman atau tidak, menyenangkan atau tidak itu.
Ketika pakde Soetijono mencari tempat kos selama sebulan lebih agar budhe Susetyaningtyas mudah dan cepat pergi ke dan pulang dari RS Ken Saras, Ungaran, mereka berdua mendapatkan kamar di pojok. Ternyata kamar itu juga bocor. Agar air bocoran itu tidak menjalar-jalar diletakkan ember untuk menampungnya. Untuk itu tempat tidur digeser, sehingga ember penampung air bocoran itu bisa ditempatkan. Itu berarti luas kamar yang hanya 3 kali 2,5 m itu berkurang beberapa cm.
Mereka berdua menikmati tinggal di kamar sempit yang bocor itu. Sikap mereka berdua terhadap kenyataan, yaitu kamar sempit yang bocor itu, menentukan rasa nyaman dan senang yang dialaminya. Bahkan mereka merasa mendapatkan tambahan berkat berada di ruang pojok itu. Sebagaimana kelihatan di foto itu, budhe Susetyaningtyas terkenai sinar matahari. Kamar lain tidak mendapatkan sinar matahari, sebab tertutup orang bangunan rumah di depannya, sedangkan kamar pojok yang ditempatinya itu tidak terlindungi oleh bangunan lain di depannya, sehingga sinar matahari leluasa masuk ke kamar. Setiap pagi budhe Susetyaningtyas menata bantal berjejer di tempat tidur mereka, sehingga terkena sinar matahari. Inilah keberuntungan.
Keberuntungan lain yang dirasakan oleh keduanya adalah kebertetanggaan yang sangat diwarnai oleh persaudaraan. Sebagai sesama penyewa kamar, mereka semua tidak saling kenal. Setelah satu bulan mereka juga akan saling berpisah. Yang menyatukan mereka, di samping tinggal bersama sebagai penyewa, mereka menanggung beban yang sama yaitu sakit. Karena yang harus makan sore/malam hanya pakdhe Soetijono maka setiap sore ia pergi ke warung. Namun, sudah beberapa hari ini setiap pkl. 17.00 tetangga sudah menyiapkan makan untuk pakdhe Soetijono, agar tidak usah pergi ke warung. Ini juga keberuntungan.
Dibandingkan dengan para tetangga yang tinggal di pondokan itu, budhe Tyas/pakdhe Soetijono yang paling sering mendapatkan kunjungan. Bahkan pernah sehari ada tiga rombongan yang mengunjunginya. Tetangga pun berkomentar “yang mencintai panjenengan banyak ya bu.” Ini juga keberuntungan.
Kalau kenyataan hidup itu disikapi dengan hati damai, dipandang serba menguntungkan (anane mung begja) maka semuanya adalah keberuntungan.

Ki Atma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *