SETUNGGAL

Sejak dahulu hingga sekarang, ada kecenderungan orang membeda-bedakan diri dan kelompoknya dari orang lain dan kelompok atau golongan lain. Karena pembedaan demikian itu maka terjadi hubungan yang tidak baik, perselisihan hingga peperangan, pembunuhan bahkan pembinaan (genosid).
Dahulu, di tahun 1950-an, misalnya, yang sering dipakai pembeda itu etnis. Sebenarnya ini merupakan peninggalan penjajah yang membedakan orang China dari orang pribumi. Meskipun bangsa Indonesia sudah merdeka puluhan tahun, namun pemilah dan pemisah China dan pribumi itu ternyata masih dipelihara terus. Syukurlah belakangan ini pemerintah sungguh-sungguh memperjuangkan agar pemisah dan pemilah pribumi dan non-pribumi itu dihilangkan. Sehingga yang dibedakan itu warga negara dan bukan warga negara (orang asing), pembeda ini untuk menentukan hak dan kewajiban yang memang tidak sama.
Pembeda lain yang dahulu terasa sekali adalah kemampuan ekonomi. Orang dibedakan antara yang miskin dan kaya. Orang kaya lebih dihormati, orang miskin tidak terlalu dihormati. Pembeda kaya dan miskin itu antara lain ditandai dengan pakaian dan perhiasan. Orang yang pakaiannya bagus, terlebih dengan memakai perhiasan yang bergelimang (Jawa: mompyor) itu dianggap sebagai orang kaya, lalu dihormati. Maka tidak jarang ada orang yang terkelabuhi oleh orang yang berpakaian parlente tetapi ternyata orang itu penipu.
Pembeda yang lain lagi adalah derajad atau pangkat atau status sosial. Bangsawan, ningrat, berpangkat, memiliki kedudukan itu dianggap sebagai orang yang terhormat, sebaliknya rakyat jelata itu tidak perlu dihormati. Apalagi rakyat jelata yang miskin, jusru seringkali diperlakukan secara hina, diperlakukan tidak adil hingga mengalami sengsara atau celaka.
Yang membuat perih di hati, terasa sakit di hati, sekarang agama justru menjadi pembeda. Orang beragama yang satu dibedakan dari orang beragama yang lain, sedemikian jelas pembeda itu, sehingga meskipun sesama warga bangsa tetapi dalam hal kepentingan tertentu memang dibedakan. Yang juga terasa perih di hati, orang sama agama tetapi beda mazab atau denominasi atau aliran, juga dibedakan, seolah ada kelompok lebih unggul dari yang lain.
Hingga sekarang ada juga kelompok orang yang tidak dianggap beragama, meskipun mereka melakukan praktek agama sesuai keyakinan atau iman mereka. Antara lain adalah kaum penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Mahaesa. Mereka dibedakan seolah mereka tidak atau belum beragama, sedangkan kelompok-kelompok lain sudah beragama.
Semua pembeda, apa pun bentuk, jenis, wujud pembeda itu sejatinya menghina Sang Pencipta. Orang memang berbeda warna kulit, rambut, juga berbeda kedudukan, beda kemampuan ekonomi, pilihan politik, keyakinan atau agama, tingkat kepandaian atau inteligensia dan ketrampilan, dsb. tetapi semua diciptakan oleh Pencipta yang sama, yaitu Sang Khalik. Tidak ada yang diciptakan oleh yang lain. Semua itu juga diciptakan dengan harkat dan martabat yang sama, yaitu sebagai manusia, tidak ada yang setengah manusia.
Meskipun orang yang satu berbeda dari yang lain, kelompok yang satu berbeda dari kelompok yang lain, namun semua orang selayaknya diperlakukan sama. Mereka layak diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya yaitu sebagai manusia. Pilihan mereka, apa pun pilihan mereka, profesi, minat, agama, pekerjaan, dsb mesti dihormati.
Semua orang itu merupakan satu kenyataan, yaitu manusia. Hakikat, harkat dan martabat mereka semua adalah sama, yaitu manusia. Terlebih di hati masing-masing itu Allah berkenan hadir dan bertahta. Apa pun agama mereka, bahkan orang yang mengaku tidak beragama pun, layak diyakini bahwa di dalam hatinya Allah berkenan hadir bahkan bertahta. Di hati setiap orang itu Allah berkenan bersabda, membisikkan kebajikan atau perbuatan baik yang pantas dilakukan dan niat rendah, perbuatan jahat yang harus dihindari.
Menyadari bahwa semua orang, meskipun berbeda-beda agama, pilihan politik, kemampuan ekonomi, dsb, dsb itu adalah satu hakikat, dan satu harkat dan martabatnya, maka selayaknya semua orang itu bersaudara. Semua hanya mencerminkan satu, dan semua memiliki hati yang dihadiri bahkan dijadikan tahta Allah.
Dalam bahasa Jawa satu itu krama inggilnya setunggal. Setunggal juga bisa dianggap sebagai singkatan yang kepanjangannya adalah SEdulur TUNGgal GALih, artinya saudara yang sama intinya, yaitu manusia, dan saudara yang sama hatinya yaitu yang dihadiri bahkan menjadi tahta Allah, Sang Pencipta. Hanya dengan memperlakukan setiap orang benar-benar sebagai manusia maka Sang Pencipta sungguh-sungguh diakui, dihormati, dimuliakan dan dipuja.

Ki Atma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *