TUNA SATAK BATHI SANAK

Sebuah pepatah Jawa “tuna satak bathi sanak” artinya dari segi uang memang rugi tetapi mendapatkan keuntungan berupa sahabat atau persaudaraan. Biasanya pepatah ini diwujudkan atau dilakukan oleh para pedagang di pasar tradisional. Mereka berdagang dengan mengambil untung sedikit atau kecil, sebab pembeli atau yang menjadi pelanggan adalah tetangga sendiri, mungkin tetangga satu dusun, mungkin tetangga lain dusun tetapi masih satu desa.
Memang bagi orang Jawa tetangga itu adalah saudara, sedangkan saudara tunggal darah dan daging yang bertempat tinggal di lain tempat, jauh dari rumahnya, itu sudah menjadi orang lain. Itulah sebabnya acara silaturahim atau saling berkunjung di hari idul fitri menjadi sangat penting, sebab dengan silaturahim itu mereka mempererat ikatan persaudaraan yang kendor karena tempat tinggal yang saling berjauhan.
Meskipun keuntungan hanya kecil atau sedikit, mereka rela dan iklas melakukannya karena dengan cara begitu mereka mendapatkan saudara. Persaudaraan ini terbukti ketika si penjual (Jawa: bakul) menanggung derita atau mempunyai kerja. Ketika menanggung derita, misalnya, ada anggota keluarga yang meninggal maka seluruh pedagang di pasar dan para pelanggan semua pasti datang melayat. Kalau mempunyai kerja, meskipun tidak diundang (dan biasanya memang tidak diundang, hanya secara lisan disampaikan bahwa akan mempunyai kerja) seluruh pedagang di pasar dan para pelanggan semua pasti datang untuk memberikan dukungan (sumbangan).
Prinsip demikian ini semakin mendapat tekanan ketika terjadi saling menawar. Mungkin karena pembeli nampaknya sangat menginginkan dagangan yang dijajakan tetapi uangnya tidak cukup untuk membayar barang itu. Bisa juga dagangan ini cukup lama dipasarkan tetapi belum laku. Atau tidak mustahil memang si pembeli orang yang pelit. Prinsip lebih mengutamakan persaudaraan itu mewujud dalam pepatah “tuna satak bathi sanak.” Meskipun dari segi uang memang rugi tetapi mendapatkan keuntungan yaitu mendapat atau terpeliharanya persaudaraan, atau persahabatan. Si pedagang mungkin benar-benar rugi, setidak-tidaknya tidak mendapat untung, hanya modalnya yang kembali, tetapi mereka rela dan iklas. Segi positifnya, persahabatan atau persaudaraan terpelihara atau bahkan bertambah jumlahnya.
Sang Guru Sejati mengajarkan bahwa memberi yang sungguh-sungguh memberi itu hanya terjadi kalau orang yang memberi itu sudah merasa rugi. La kok begitu? Iya. Pengurbanan yang sesungguhnya itu hanya terjadi kalau orang yang berkurban itu mengurbankan sesuatu yang paling penting, paling berharga, paling utama dalam hidupnya, yaitu nyawanya sendiri. Kalau orang mengurbankan nyawanya ya jelas ia mengalami kerugian, sebab nyawanya hilang. Sang Guru Sejati juga bersabda “apakah upahmu?” kalau orang berbuat hanya menghasilkan keseimbangan. Kalau orang mengasihi orang yang mengasihinya, itu hanya berbuah atau berakibat seimbang. Sang Guru Sejati menyatakan bahwa perbuatan demikian itu tidak berarti atau tidak berguna. Tentu saja kalau berbuat untuk mendapatkan keuntungan itu adalah kejahatan, sebab seimbang saja bukan kebajikan. Kebajikan yang sejati, perbuatan baik yang sungguh-sungguh baik itu kalau tidak berbalas, setidak-tidaknya memang disengaja dengan niat atau motivasi tidak mendapatkan balasan. Ini bukan seimbang tertapi ada yang hilang dari diri sendiri. Dengan sengaja mengalami kerugian.
Yang mesti diwaspadai adalah niat atau motivasi berbuat kebajikan atau perbuatan baik itu. Meskipun disengaja mengalami kerugian, kalau kerugian itu terus diingat-ingat itu berarti tidak tulus dan iklas. Itu kerugian yang busuk. Kalau disengaja mengalami kerugian, dan kerugian itu tidak diingat, benar-benar diiklaskan dengan tulus, atau benar-benar dilupakan karena merasa mendapatkan keuntungan lain (seperti kasus tuna satak, mengalami kerugian dalam hal uang, tetapi bathi sanak, mendapatkan keuntungan persahabatan atau persaudaraan) itulah kerugian yang bermakna, kerugian yang suci.

Ki Atma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *