KEBERANIAN


Sebuah komunitas yang baru terbentuk, yang jumlah warganya hanya 11 orang, merasa diancam oleh masyarakat yang jumlahnya mayoritas. Sebab komunitas kecil itu dianggap sebagai kelompok sesat, penyeleweng ajaran agama yang dianut oleh mayoritas itu. Karena takut, komunitas kecil itu mengurung diri mereka di dalam ruang yang terkunci rapat. Sebenarnya tindakan mereka itu adalah tindakan bodoh. Sekalipun mereka mengunci pintu ruang tempat mereka berada itu secara rapat, namun sesungguhnya ancaman atau bahaya masih tetap saja ada. Mereka yang mengancam itu tetap ada di luar ruang yang terkunci rapat itu.

Komunitas kecil itu menolak kenyataan, yaitu kenyataan adanya kelompok yang mengancam mereka. Cara menolak kenyataan yang mereka lakukan memang konyol, yaitu dengan mengurung diri di dalam ruangan.

Tidak lama berselang, komunitas kecil itu sadar bahwa tidak ada gunanya menyembunyikan diri di ruangan tertutup yang terkunci rapat, tetapi di luar ruangan ancaman itu masih tetap ada di sana. Mereka tidak lagi dihantui oleh ketakutan dan kekuatiran terhadap ancaman kelompok mayoritas itu. Mereka memiliki keberanian untuk menerima dan menghadapi kenyataan. Mereka keluar dari ruangan dan berada di medan terbuka berhadapan dengan para pengancam yang membenci mereka itu. Akhirnya ada di antara komunitas kecil itu yang teraniaya bahkan mati terbunuh, namun komunitas kecil itu telah menemukan keberanian mereka, yaitu keberanian menghadapi kenyataan.

Di jaman modern sekarang ini juga masih banyak orang yang mengaku beriman kepada Allah, namun tidak berani menerima dan menghadapi kenyataan. Mereka hidup dalam ketakutan dan kekuatiran. Tersebutlah kisah nyata seorang ibu yang pulang ke rumah sendirian dari tempat saudaranya, berjalan kaki. Setelah meninggalkan rumah saudaranya itu ia merasa ada yang membuntuti langkah-langkahnya. Namun ketika ia berhenti dan menoleh ke belakang, ia tidak melihat seorang manusia pun. Ia mulai dihinggapi rasa takut dan kuatir, kalau-kalau yang membuntutinya itu hantu. Ia melanjutkan langkahnya, dan suara jejak itu membuntutinya lagi. Karena takut dan kuatir ia mempercepat jalannya, namun yang membuntutinya juga mengikuti kecepatan langkahnya. Anehnya, tidak terlihat seorang pun manusia di belakangnya. Akhirnya ia lari agar segera sampai di rumah. Suara jejak yang membuntutinya juga mengikuti kecepatan larinya. Terengah-engah ia sampai di rumah. Ketika hendak masuk ke rumah, baru disadarinya ternyata ada plastik meletak di sandalnya. Ternyata hantu yang membuntutinya itu adalah plastik itu. Ia pun meledak dalam tawa untuk menertawakan dirinya yang konyol.

Kenyataan itu mesti diterima dan dihadapi. Syukurlah kalau kenyataan itu hal yang menyenangkan dan bahkan membahagiakan. Akan tetapi kalau kenyataan itu hal yang menyedihkan bahkan mengakibatkan derita, tetaplah harus diterima dan dihadapi. Juga kalau kenyataan itu adalah ancaman. Hanya dengan keberanian menghadapi kenyataan seseorang menjadi pemenang. Mungkin ia menderita, atau bahkan mati, namun ia adalah pemenang.

Ki Atma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *