PENGINJILAN

Banyak orang beragama Kristen, maupun yang beragama lain, memahami penginjilan itu sebagai mengajak orang berpindah agama ke agama Kristen. Paham demikian ini sebenarnya paham kuno sekali, paham jaman kolonialisme. Sejak tahun 1980-an paham ini sudah mulai ditanggalkan dan ditinggalkan, oleh banyak gereja dan komunitas Kristen, diganti dengan paham baru. Yaitu penginjilan dipahami sebagai usaha untuk mempromosikan bahkan mewujudkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan (justice, peace, and integrity of creation).
Praktek atau pelaksanaan paham penginjilan sebagai usaha untuk mengajak orang berpindah agama ke agama Kristen, mengakibatkan terjadinya saling berhadapan antara Kristen dan pihak lain, bahkan berbenturan dan bisa juga peperangan dengan pihak lain itu. Sedangkan Injil Yesus Kristus itu adalah Injil kerajaan Allah. Kerajaan Allah, atau pemerintahan Allah, adalah pemerintahan cinta kasih, damai-sejahtera. Wujud konkret Injil itu, dengan demikian adalah damai-sejahtera. Di masyarakat Jawa juga dapat ditemukan kata yang sepadan dengan damai-sejahtera itu, yaitu “memayu, hayuning bawana” (membuat dunia ini ayu).
Paham dan praktek memperjuangkan “damai-sejahtera” atau dunia yang ayu/cantik, itu benar, baik, dan pas (tepat) dengan keadaan masyarakat bangsa maupun dunia, yang plural ini. Penginjilan, dengan demikian, bukan perihal mengajak orang berpindah agama ke agama Kristen, tetapi mewujudkan kehidupan yang di-pemerintah-i oleh Allah, itulah kehidupan yang diwarnai dengan damai-sejahtera. Secara lebih konkret adalah memperjuangkan perwujudan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.

Ki Atma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *