Semua tulisan dari Padepokan Mardika

Blog ini adalah blog resmi Padepokan Mardika. Yanne Erikha adalah pengurus Yayasan yang bertanggungjawab mempublikasikan berita, kegiatan Padepokan. Penulis adalah para kontributor yang disetujui oleh pengurus Padepokan

KEAJAIBAN

Keajaiban selalu diharapan oleh siapa pun, terlebih ketika menghadapi persoalan hidup yang pelik, yang menurut perhitungan atau nalar wajar, sangat mustahil persoalan pelik itu bisa diatasi dan diselesaikan. Keajaiban adalah intervensi ilahi yang memungkinkan hal yang semula mustahil menjadi kenyataan. Orang beragama menggunakan doa untuk mengundang keajaiban. Saatu menunggu terjadinya keajaiban adalah saat genting. Saat demikian itu orang beragama merasa begitu dekat dengan Allah. Betapa lega ketika merasa doanya dikabulkan. Ketika keajaiban datang. Akan tetapi, tidak jarang terjadi, setelah lewat beberapa lama, orang beragama itu sudah lupa keajaiban yang terjadi, dan merasa jauh atau bahkan benar-benar menjauh dari Allah. Orang lain, yang juga orang beragama, tidak membutuhkan keajaiban untuk merasa selalu disapa oleh Allah, merasa dirinya selalu didekati Allah, maka juga merasakan selalu dekat dengan Allah. Ia jalani hidupnya dengan selalu berbuat baik, berbudi pekerti luhur dan rajin beribadah sebab merasa selalu berada di dekat Allah itu tadi.
Ada juga jenis keajaiban yang lain, yaitu seseorang yang dianggap “sakti” yang mampu melakukan hal-hal di luar nalar wajar. Ia bisa menyembuhkan orang sakit yang oleh dokter divonis tidak bisa disembuhkan. Karena kemampuan “supra natural” itu ia dikagumi banyak orang. Akan tetapi untuk apa orang kagum kepada orang yang mampu membuat keajaiban itu? Mengagumi saja tidak menambah apa pun dalam hidup ini. Pertanyaan pentingnya adalah kalau dia bisa membuat keajaiban yang seperti itu, saya bisa membuat keajaiban apa? Ketika ada orang yang mampu menyembuhkan orang sakit yang sudah sekarat, bisakah saya membuat keajaiban dengan menyelamatkan anak putus sekolah agar bisa melanjutkan sekolah bahkan hingga ia mendapatkan pekerjaan mapan? Keajaiban, dengan demikian, melahirkan keajaiban-keajaiban lainnya sehingga dunia ini dipenuhi dengan keajaiban-keajaiban, karena orang bersedia menjadi alat intervensi Allah ke atas persoalan pelik yang dihadapi oleh umat manusia.
Jadi, MARI BERBUAT KEAJAIBAN

Ki Atma

Konsekuensi

Menderita karena memang disengaja itu berbeda sama sekali dengan menderita karena terpaksa. Penderitaan yang dialami sesungguhnya sama. Yang membedakan adalah rasa . Penderitaan yang karena memang disengaja dirasakan sebagai kebahagiaan. Sedangkan penderitaan karena terpaksa dirasakan sebagai beban.
Seseorang yang dengan sengaja memberikan uang yang dimilikinya kepada orang lain yang memang sedang sangat membutuhkan dana untuk memenuhi biaya pengobatan, ia merasakan kebahagiaan sebab bisa menolong orang lain. Sedangkan orang yang membutuhkan dana untuk memenuhi biaya pengobatan tetapi tidak mempunyai uang untuk kepentingan itu, ia merasa tersiksa lahir dan batinnya. Itulah konsekuensi.

Ki Atma