TUNA SATAK BATHI SANAK

Sebuah pepatah Jawa “tuna satak bathi sanak” artinya dari segi uang memang rugi tetapi mendapatkan keuntungan berupa sahabat atau persaudaraan. Biasanya pepatah ini diwujudkan atau dilakukan oleh para pedagang di pasar tradisional. Mereka berdagang dengan mengambil untung sedikit atau kecil, sebab pembeli atau yang menjadi pelanggan adalah tetangga sendiri, mungkin tetangga satu dusun, mungkin tetangga lain dusun tetapi masih satu desa.
Memang bagi orang Jawa tetangga itu adalah saudara, sedangkan saudara tunggal darah dan daging yang bertempat tinggal di lain tempat, jauh dari rumahnya, itu sudah menjadi orang lain. Itulah sebabnya acara silaturahim atau saling berkunjung di hari idul fitri menjadi sangat penting, sebab dengan silaturahim itu mereka mempererat ikatan persaudaraan yang kendor karena tempat tinggal yang saling berjauhan.
Meskipun keuntungan hanya kecil atau sedikit, mereka rela dan iklas melakukannya karena dengan cara begitu mereka mendapatkan saudara. Persaudaraan ini terbukti ketika si penjual (Jawa: bakul) menanggung derita atau mempunyai kerja. Ketika menanggung derita, misalnya, ada anggota keluarga yang meninggal maka seluruh pedagang di pasar dan para pelanggan semua pasti datang melayat. Kalau mempunyai kerja, meskipun tidak diundang (dan biasanya memang tidak diundang, hanya secara lisan disampaikan bahwa akan mempunyai kerja) seluruh pedagang di pasar dan para pelanggan semua pasti datang untuk memberikan dukungan (sumbangan).
Prinsip demikian ini semakin mendapat tekanan ketika terjadi saling menawar. Mungkin karena pembeli nampaknya sangat menginginkan dagangan yang dijajakan tetapi uangnya tidak cukup untuk membayar barang itu. Bisa juga dagangan ini cukup lama dipasarkan tetapi belum laku. Atau tidak mustahil memang si pembeli orang yang pelit. Prinsip lebih mengutamakan persaudaraan itu mewujud dalam pepatah “tuna satak bathi sanak.” Meskipun dari segi uang memang rugi tetapi mendapatkan keuntungan yaitu mendapat atau terpeliharanya persaudaraan, atau persahabatan. Si pedagang mungkin benar-benar rugi, setidak-tidaknya tidak mendapat untung, hanya modalnya yang kembali, tetapi mereka rela dan iklas. Segi positifnya, persahabatan atau persaudaraan terpelihara atau bahkan bertambah jumlahnya.
Sang Guru Sejati mengajarkan bahwa memberi yang sungguh-sungguh memberi itu hanya terjadi kalau orang yang memberi itu sudah merasa rugi. La kok begitu? Iya. Pengurbanan yang sesungguhnya itu hanya terjadi kalau orang yang berkurban itu mengurbankan sesuatu yang paling penting, paling berharga, paling utama dalam hidupnya, yaitu nyawanya sendiri. Kalau orang mengurbankan nyawanya ya jelas ia mengalami kerugian, sebab nyawanya hilang. Sang Guru Sejati juga bersabda “apakah upahmu?” kalau orang berbuat hanya menghasilkan keseimbangan. Kalau orang mengasihi orang yang mengasihinya, itu hanya berbuah atau berakibat seimbang. Sang Guru Sejati menyatakan bahwa perbuatan demikian itu tidak berarti atau tidak berguna. Tentu saja kalau berbuat untuk mendapatkan keuntungan itu adalah kejahatan, sebab seimbang saja bukan kebajikan. Kebajikan yang sejati, perbuatan baik yang sungguh-sungguh baik itu kalau tidak berbalas, setidak-tidaknya memang disengaja dengan niat atau motivasi tidak mendapatkan balasan. Ini bukan seimbang tertapi ada yang hilang dari diri sendiri. Dengan sengaja mengalami kerugian.
Yang mesti diwaspadai adalah niat atau motivasi berbuat kebajikan atau perbuatan baik itu. Meskipun disengaja mengalami kerugian, kalau kerugian itu terus diingat-ingat itu berarti tidak tulus dan iklas. Itu kerugian yang busuk. Kalau disengaja mengalami kerugian, dan kerugian itu tidak diingat, benar-benar diiklaskan dengan tulus, atau benar-benar dilupakan karena merasa mendapatkan keuntungan lain (seperti kasus tuna satak, mengalami kerugian dalam hal uang, tetapi bathi sanak, mendapatkan keuntungan persahabatan atau persaudaraan) itulah kerugian yang bermakna, kerugian yang suci.

Ki Atma

SINDIRAN

Ada orang yang menyindir orang lain tanpa dasar, ia hanya ngawur begitu saja, asal nyindir. Orang demikian itu yang disebut TONI, singkatan dari Waton muni, asal ngomong, atau asal njeplak. Orang yang menyindir secara ngawur itu adalah orang yang hatinya kotor. Mengira dirinya paling baik dan benar, dan orang lain selalu salah, keliru.
Ada orang yang menyampaikan sindiran itu berdasarkan fakta yang benar, kenyataan senyatanya.
Ada orang yang merasa tersindir lalu marah, ngamuk. Sebenarnya ia merasa dan mengakui di dalam hatinya bahwa isi sindiran itu benar. Dirinya memang salah, keliru. Akan tetapi ia tidak mau berbenah diri. Orang demikian ini disebut tegar tengkuk. Dalam bahasa Jawa ada banyak kata dipakai untuk menunjuk sifat jelek demikian ini, antara lain: ndableg, mbrengkele, mbego, ngeyel, wangkal, wangkot.
Ada orang yang merasa tersindir, tetapi karena ia tahu benar bahwa sindiran itu hanya ngawur, maka ia berdiam diri saja, tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap sindiran itu. Sindiran yang ngawur itu ditanggapi dengan egp, prêt.
Ada orang yang merasa tersindir, dan ia merasa dan mengakui dalam hatinya bahwa ia salah, keliru, sebagaimana isi sindiran itu, lalu ia berbenah diri. Ia berubah untuk menjadi lebih baik.

Ki Atma

MENJADI DIRI SENDIRI

Masyarakat kita sekarang telah menjadi masyarakat yang bersaing, berlomba, berkompetisi, saling mengungguli. Seolah kalau tidak menjadi orang unggul itu kehilangan harga diri, dan agar dapat menjadi orang unggul itu hanya ada satu cara yaitu mengalahkan orang lain. Persaingan, kompetisi, perlombaan dianggap sebagai jalan satu-satunya dan cara terbaik untuk maju, menjadi unggul. Tidak mengherankan ada anak mengalami stress berat sebab orang tuanya menginginkan anaknya itu nantinya menjadi orang unggul, bahkan sejak masih anak-anak sekarang ini pun, maka anak itu harus belajar, les, belajar lagi, sehingga kehilangan masa kanak-kanaknya, menjadi pandai tetapi kemudian stres berat.
Persiangan, perlombaan, kompetisi telah merasuk di semua aspek hidup, hingga di bidang agama pun juga ada kecenderungan kompetisi, perlombaan, persaingan. Lomba menyanyikan lagu rohani, contohnya. Lagu rohani adalah lagu yang liriknya, tetapi juga pilihan nada yang mencerminkan jiwa lagu itu, untuk memuji-memuliakan Tuhan. Akan tetapi banyak orang tidak merasa risi, bahkan bangga bisa ikut perlombaan lagu rohani. Memuji-memuliakan Tuhan tetapi sambil merasa diri atau kelompoknya lebih baik daripada pihak lain. Padahal mereka juga tahu bahwa memuji-memuliakan Tuhan itu semestinya dengan tulus-iklas, dengan niat atau motivasi tidak mencari pujian bagi diri sendiri. Namun, dengan berbagai dalih atau alasan yang seolah masuk akal, dan dengan dibungkus bahasa saleh/suci, mereka berlomba, bersaing, berkompetisi memuji-memuliakan Tuhan, yang sejatinya adalah demi kebanggaan diri sendiri, agar diri atau kelompoknya unggul.
Bisakah maju dan menjadi unggul tanpa bersaing, berlomba, berkompetisi? Sangat bisa, sebab ini tentang niat atau motivasi. Para penemu adalah contoh menjadi unggul tanpa kompetisi, bersaing, berlomba. Enstein, James Watt, Thomas Edison, Johann Bach, Handel, Rendra, dll adalah para orang yang unggul di bidang masing-masing tetapi tanpa berkompetisi, berlomba, bersaing dengan pihak lain.
Menjadi diri sendiri, itulah sesungguhnya kunci untuk menjadi orang unggul tanpa bersaing, berkompetisi, berlomba. Orang yang menjadi diri sendiri, itu ketika ingin maju ya dia belajar dan belajar, mencoba dan mencoba tanpa membandingkan dirinya dengan pihak lain.

Ki Atma

NGELMU-LAKU, SATU

Sekarang sudah jarang bahkan mungkin sudah tidak ada penjual obat keliling. Dulu, tahun 1950-an ada banyak penjual obat keliling itu. Mereka berkeliling dari pasar yang satu ke pasar yang lain, atau memasarkan dagangan dari dusun ke dusun. Yang menjajagakan dagangan dari dusun ke dusun, mereka menggelar dagangan di tempat yang cukup luas, lalu memanggil orang untuk datang ke tempat itu membuat bunyi-bunyian, misalnya, menabuh genderang, dan ketika orang sudah mulai berdatangan mereka melakukan atraksi-atraksi. Ada yang dengan main akrobat, main sulap, berjoged sebagai badut, dsb. Di sela pertunjukan yang satu ke pertunjukan yang lain mereka menjajakan dagangan.
Biasanya ketika menawarkan dagangannya itu mereka ngomong dengan cepat, sedemikian nerocos dengan lagu tertentu sehingga membentuk irama yang enak didengar, sambil menyelipkan lelucon. Dengan cara demikian itulah mereka meyakinkan calon pembeli untuk mencoba dan akhirnya membeli.
Seorang penjual obat keliling pernah bersaksi bahwa meskipun ia meyakinkan pembeli obat yang dijajakannya itu manjur tetapi ia sendiri tidak pernah menggunakannya. Mungkin kesaksian nya itu benar-benar jujur. Jadi, meskipun para penjual obat keliling itu meyakinkan pembeli untuk membeli dagangannya, tetapi mereka sendiri sebenarnya mungkin tidak pernah menggunakan barang yang dijajakannya itu.
Sikap dan perilaku penjual obat keliling yang tidak memakai obat yang dijualnya, itu yang disebut ngelmu dan laku tidak satu. Omdo singkatan dari omong doang, atau singkatan dari not not action talk only, dalam bahasa Jawa diungkap dengan “parikan” atau pantun gajah diblangkoni, isa kojah ora nglakoni, artinya bisa mengajarkan tapi tidak melakukan. Sikap dan perilaku demikian itu munafik.
Agaknya sudah sejak jaman dahulu kala banyak pemimpin atau tokoh agama yang munafik. Sebutan nabi palsu adalah contohnya. Di masa sekarang semakin nampak banyak pemimpin atau tokoh agama yang mengajarkan ajaran mulia, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Mereka adalah orang-orang munafik yang hanya membeber “ngelmu” tetapi tidak menjalankan “laku.”
Berbeda sama sekali dengan orang-orang sederhana yang tinggal di desa, yang hidupnya dekat bahkan menyatu dengan alam. Mereka mungkin orang yang tidak memiliki “ngelmu” agama, tetapi telah menjadi watak atau karakter masing-masing, perbuatan baik, tepa slira, murah hati, bersegera menolong orang sepi ing pamrih, dan kebajikan-kebajikan lain mereka jalani. Mereka menjalani “laku” meskipun miskin “ngelmu.” Bagi mereka yang munafik “ngelmu” itu terpisah dari “laku” sebaliknya bagi mereka yang memiliki watak luhur budi, mereka menjalankan meskipun tidak memiliki “ngelmu” dan bisa ditebak kalau mereka memiliki “ngelmu” maka bagi mereka “ngelmu” dan “laku” itu satu.

Ki Atma

KHOTBAH HARI INI


Karena kekurang-lancaran komunikasi, pagi ini saya beribadah di Pasamuwan (pepantan) Piyak, yang berada di desa. Yang memimpin ibadah seorang bapak, yang dari segi umur masih tergolong muda, dari segi pendidikan tergolong rendah. Ia hanya tamat SD. Katanya setelah tamat SD bapaknya tidak mengijinkan ia meneruskan ke SMP sebab menganggap tidak perlu dan tidak penting sekolah lebih tinggi daripada SD.
Meskipun ia tahu saya ikut beribadah, duduk di antara para warga gereja, ia menyampaikan kotbah dengan tenang, tidak ada tanda-tanda mengalami tekanan mental, minder, kurang percaya diri, dsb. Saya sungguh bangga terhadap dirinya. Tidak semua orang memiliki keberanian yang bukan sok atau jumawa untuk menyampaikan kotbah. Tidak semua orang yang bersedia dengan kerendahan hati melayankan kotbah tetap bersikap dan bertindak tenang ketika tahu di dalam ibadah ada orang lain yang dianggap melebihi dirinya, dari segi umur, kepandaian, posisi/status sosial, pengalaman, dsb.
Kebanggaan saya semakin menggelembung memperhatikan isi kotbahnya yang didasarkan pada Injil Markus 8 : 31 – 18, dan ia membaca ulang Markus 8 : 34 – 38. Dalam kotbahnya ia mengawali betapa kita merasa kecewa ketika kehilangan harta atau kekayaan, meskipun harta kekayaan yang hilang itu hanya kecil. Apalagi kalau kita kehilangan nyawa. Lalu, berulang kali ia menegaskan ajakan untuk menghitung berkat Allah, keberuntungan yang dialami, dan berkat tambahan kalau kita bersedia selalu beribadah kepada Allah dengan setia.
Ia memberi contoh konkret tentang menghitung berkat Allah, dengan contoh kenyataan sehari-hari yaitu bahwa kita sudah bisa hidup dengan sangat nyaman. Rumah yang bagus, sekarang jalan juga sudah bagus, dsb
Ia juga memberi contoh konkret menghitung keberuntungan yang dialami, yaitu jangan membandingkan hidup dengan yang lebih kaya, hidup lebih enak, dsb, tetapi dengan yang lebih sengsara, lebih sulit, lebih menderita. Kalau kita membandingkan dengan yang lebih sulit, sengsara, menderita kita mesti semakin semangat membangun hidup saleh. Yang lebih sulit, sengsara, menderita saja semangat, la mosok kita justru lemah, tidak semangat. La ada anggota majelis gereja dari pasamuwan lain, ibu-ibu sudah tua. Mereka berdua itu yang menjadi majelis di pasamuwan itu. Keduanya itu tidak bisa naik sepeda motor. Ke mana-mana hanya naik sepeda. Ketika sidang majelis di pasamuwan yang tempatnya jauh, mereka bersemangat mengayuh sepeda. Meskipun terkena panas matahari, atau dijatuhi rintik hujan, tapi mereka bersemangat. La kita yang bisa naik sepeda motor harusnya lebih bersemangat to.
Ia juga memberi contoh konkret berkat tambahan kalau kita bersedia selalu beribadah kepada Allah dengan setia. Kalau menjadi majelis gereja, misalnya, mendapat berkat tambahan dari Allah antara lain mempunyai kenalan dan itu berarti bertambah saudara, yaitu sesama majelis gereja dari pasamuwan lain.
Dalam batin saya pun lalu muncul tambahan penjelasan tentang berkat tambahan dari Allah itu. Kalau hadir di sidang majelis pasti mendapat suguhan, itu berarti makan wekkkkkkk. Apalagi bagi pendeta. Berkat tambahan itu berlipat. Antara lain, setelah sidang selesai, pulangnya dititipi bawaan berat, yaitu sisa lauk dan makanan seadanya.

Ki Atma

PARADOKS HIDUP

Paradoks hidup, iyaaa, memang hidup yang baik dan benar itu ternyata justru paradoks. Paradoks itu seperti bandul jam yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Tidak ke kanan terus, tetapi juga ke kiri, dan sebaliknya. Justru dengan demikian ada keseimbangan. Karena bandul itu bergerak ke kanan dan ke kiri terus, paradoks, maka jam itu “hidup.” Demikian juga dengan hidup manusia.
Paradoks hidup itu adalah demikian: siapa pun juga yang kehilangan nyawa atau hidup, ia justru menemukan dan memiliki nyawa atau hidupnya. Sebaliknya, siapa pun juga yang mengukuhi, mempertahankan nyawa atau hidupnya, ia justru pasti akan kehilangan nyawa atau hidupnya.
Sebenarnya hal ini sungguh sangat sederhana. Ada banyak contohnya. Salah satunya adalah para pahlawan. Mereka yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dari penjajahan bangsa lain, itu hanya mempunyai nyawa satu saja, seperti halnya orang-orang lain juga hanya mempunyai satu nyawa. Namun, mereka merelakan nyawanya dipertaruhkan. Mereka rela kehilangan nyawa atau hidupnya. Banyak di antara para pejuang itu yang mati. Nyawa atau hidup mereka hilang. Akan tetapi, nyawa mereka yang hanya satu itu sekarang menjadi jiwa atau semangat yang merasuk ke banyak orang lain, yaitu mereka yang sungguh-sungguh mencintai Indonesia, yang meneruskan perjuangan mereka. Mereka yang kehilangan nyawa itu telah menemukan dan memiliki nyawa-nya sendiri, maka nama-nya pun terus disebut, dirinya dikenang dan bahkan dijadikan suri tauladan generasi penerus. Contoh lain, kalau ada dermawan, orang yang murah hati (Jawa: loma), maka ia pasti akan kehilangan harta atau dana yang disedekahkan atau dibagikan. Harta itu juga bisa dimaknai sebagai nyawa, to, sebab harta atau kekayaan itu juga sarana hidup. Meskipun si dermawan itu kehilangan hartanya, namun dirinya pasti sangat disayangi oleh tetangga, kenalan, sanak-saudaranya. Dengan demikian ia mendapatkan nyawa atau hidupnya, ketika ia mengalami kerepotan, misalnya, tanpa meminta pun orang akan berbondong-bondong datang menolong, sebab ia orang yang baik dan layak dibalas dengan kebaikan.
Mereka yang mengukuhi atau mempertahankan nyawa atau hidupnya itu justru kehilangan nyawa atau hidupnya. Iya. Sungguh, memang begitu. Ada banyak contohnya. Kalau ada orang yang pelit apalagi kikir, ia akan dijauhi tetangga, kenalan, sanak-saudara. Kalau pun mempunyai sahabat hanya sedikit yang mungkin sesama orang pelit atau kikir. Ketika mengalami kesulitan orang enggan menolong, bahkan ketika meminta tolong pun orang menolong sambil menggerutui “makanya, jadi orang itu jangan kikir.” Contoh lain, para koruptor. Mereka itu ingin mengukuhi hidup agar tidak sengsara, menumpuk harta agar menjamin hidupnya. Akan tetapi, dengan demikian ia justru terbukti moralnya rendah dan kotor, perilakunya jahat. Meskipun mungkin ia kaya tetapi orang mencibirnya sebab kekayaannya itu adalah dosa. Ketika ia sengsara, apalagi mati, orang lain tidak merasa kehilangan, bahkan mengatai kotor “rasakan”, “kapok” atau kata kotor lain.
Siapa pun yang menghambakan diri, mengabdikan diri, sesungguhnya ia justru yang paling berkuasa. Sebaliknya siapa pun yang merasa diri paling berkuasa, sejatinya ia orang yang paling lemah dan hina.

Ki Atma

TAKUT KEPADA TUHAN

Di acara ILC, pak Salim Said pernah menyatakan bahwa Indonesia ini tidak bisa maju sebab tidak ada yang ditakuti, bahkan Tuhan pun tidak ditakuti.
Semua warga negara Indonesia adalah orang beragama. Semua mengaku menyembah Tuhan. Salah satu indikasinya banyak tempat beribadah di seluruh pelosok tanah air ini. Siapa pun yang berbicara di muka umum, selalu memulai pembicaraannya dengan salam yang menyebut nama Tuhan, mengajak memuja dan memuji Tuhan serta bersyukur kepada Tuhan yang melimpahkan berkat. Akan tetapi, perilaku kesehariannya banyak yang tidak mencerminkan ajaran agama. Kaum elite negeri ini justru menunjukkan perilaku biadab, yaitu merampok harta kekayaan negeri ini, dan ketika tertangkap lalu diproses hukum menampilkan diri seolah-olah seorang yang sangat taat beragama. Yang lebih parah lagi ada yang menyatakan bahwa korupsi tidak apa asalkan itu untuk kepentingan agama. Demikianlah di negeri ini Tuhan hanya disebut tetapi tidak perintah-Nya diabaikan, larangan-Nya dilanggar.
Takut akan Tuhan adalah permulaan segala hikmat, demikian nasihat orang bijak. Dalam bahasa Jawa kata takut itu diungkapkan dengan sangat tepat, yaitu wedi-asih. Takut yang diliputi dan diwarnai cinta. Bukan takut dijatuhi hukuman, melainkan karena mencintai-Nya maka perintah-Nya diperhatikan dan dijalani, larangan-Nya dijauhi. Perilaku dan hidup yang demikian itu merupakan awal dari hikmat. Orang berhikmat itu menempatkan diri dan bertindak secara benar dan tepat (Jawa: bener lan pener).
Kesalahan terbanyak dan terbesar warga bangsa ini adalah menandai dan mengukur kesalehan dari tindakan menjalani ritual agama. Kalau yang beragama Islam rajin sholat dan setiap hari Jumat selalu sholat berjamaah, yang Kristen rajin beribadah pada hari minggu, demikian juga dengan orang-orang yang beragama lain. Memang semua itu perlu dan penting, tetapi lebih perlu dan penting adalah perwujudan nyata semua yang didapatkan dalam ibadah itu di perilaku sehari-hari dalam pergaulan dengan orang lain. Bukan hanya kesalehan ritual tetapi terlebih lagi adalah kesalehan sosial.
Bangsa lain yang tidak beragama (atheis), antara lain berbagai bangsa Eropa, karena tidak menyembah Tuhan, tidak mengukur kebaikan hidup dari kesalehan ritual. Mereka lebih mengukur kebaikan seseorang dari sikap dan perlakuan mereka terhadap orang lain. Bagi mereka aneh kalau ada orang tidak antri, sebab perilaku tidak antri itu jelas merugikan diri sendiri dan orang lain, yaitu mengakibatkan kesemrawutan. Itulah sebabnya mereka lebih memiliki kesalehan sosial dibandingkan bangsa Indonesia. Mereka lebih memiliki perilaku baik, budi pekerti luhur daripada bangsa Indonesia. Tidak ada cara lain agar bangsa Indonesia ini maju, setiap orang, setiap individu mesti menekankan penting dan perlunya menjalani kesalehan sosial, sangat memperhatikan penting dan perlunya berbuat baik kepada orang lain.

Ki Atma

PENGHARAPAN

Kekuatan pengharapan itu memang hebat. Kemustahilan dapat diubah menjadi kenyataan karena kekuatan pengharapan. Siapa akan membantah premis ini. Pasti tidak ada.
Mbakyuku Susetyaningtyas adalah pembukti hal ini. Hampir semua saudara, anak, dll yang mengenal dia dan keluarganya, memberi kesaksian bahwa dia dan keluarganya termasuk orang yang “cilikan ati” artinya cenderung kurang kuat menahan beban hidup. Mudah pesimis, kurang memiliki daya tahan dan ke-optimis-an menghadapi persoalan. Akan tetapi sejak diketahui menderita kanker ganas di rahangnya, ia justru menunjukkan dan membuktikan sebagai orang yang memiliki pengharapan yang kuat, selalu riang, dan memiliki tekat sembuh yang sangat hebat. Memang pernah juga ia pagi-pagi sekali berteriak lewat sms “kula capek….kula lelah….tuluuuung” Teriakkannya itu karena ia terkena diare sehingga semalaman tidak tidur dan terus diganggu perut yang sakit. Namun secara keseluruhan ia sungguh-sungguh menanggung beban sakit dengan riang, selalu tersenyum, dan berpengharapan kuat. Setiap kali dikunjungi ia akan menghantar pulang orang yang mengunjunginya dengan ucapan terimakasih dan mengangkat kedua tangan tertekuk di samping pundak sambil berkata “saya makin semangat.” Saudara-saudaranya, demikian pula anak-anak, kemenakan, dll juga memberi kesaksian bahwa mbakyu Tyas memiliki semangat yang luar biasa. Semua heran dan sekaligus bangga.
Tentu saja peran suaminya, kakakku Soetijono sangat besar. Dia dampingi isterinya dengan kesabaran cintanya. Setiap pagi pkl. 04.00 sudah pergi ke rumah sakit untuk antri, agar pengobatan melalui penyinaran radio aktif untuk isterinya, mbakyuku itu, dapat giliran sepagi mungkin. Setelah meng-antri ia akan pulang-kembali ke tempat kost untuk tidur atau menyiapkan air hangat untuk mandi, menyiapkan makan dan kebutuhan lain untuk isterinya dan dirinya sendiri. Dukungan orang paling dekat, dalam kasus isteri dukungan suami, memang sangat besar perannya.
Mengubah hal yang mustahil menjadi kenyataan itu adalah mujizat, dan mujizat itu tidak harus berupa peristiwa yang terjadi tiba-tiba, mendadak dan tak terkira (Jawa: ujug-ujug, mak bendudug). Semangat yang membara, pengharapan yang kuat dan tekat yang menyala untuk sembuh dari sakit itu adalah mujizat juga.

Ki Atma

PERMOHONAN KEPADA TUHAN

Ketika anda sakit, apa yang anda mohon di dalam doa anda? Pada umumnya orang yang sedang sakit akan memohon dalam doanya agar segera diberi kesembuhan. Padahal bisa saja yang tadinya seolah hanya sakit biasa, tetapi ternyata tidak segera sembuh melainkan semakin parah dan akhirnya mengakibatkan kematian. Sebaiknya, ketika sakit yang dimohon di dalam doa bukan agar bisa segera sembuh, tetapi tetap memiliki hati damai, bahkan terus mampu mengembangkan hati damai itu. Kalau sembuh hatinya damai, kalau tetap sakit hatinya juga damai, kalau semakin parah hatinya tetap damai dan kalau akhirnya meninggal juga meninggal benar-benar dalam damai.
Ketika beberapa anggota dhemen pit (dhemit) menjenguk mbakyuku Susetyaningtyas, setelah kami berdoa, kakakku Soetijono mengajak kami menyanyikan kidung lama nomor 140

Tyas kita dimen slamanya, bungah asukarena
Dene Sang Rama neng swarga nganggep putra mring kita
Mara tansah abebungah saben dina antuk trang
Dalaning urip endah apadhang mara tansah den girang

Setelah selesai bernyanyi ia berkata “ini tekat kami. Terus bergembira. Tetap memiliki hati damai.”
Sesungguhnya bagi orang yang sedang sakit, atau menanggung beban, apa pun jenis beban itu dan seberat apa pun beban itu, hati damai itu merupakan kekuatan dahsyat melawan derita karena sakit atau menanggung jenis beban lain. Hati damai itu yang menyalakan bahkan mengobarkan pengharapan, dan pengharapan itu merupakan kekuatan dahsyat dari dalam diri sendiri melawan sakit atau dalam menanggung jenis beban lain itu.

Ki Atma

PERSPEKTIF


Ada orang sakit yang wajahnyaselalu keruh dan tidak pernah berhenti mengeluh. Ada orang sakit parah yang wajahnya selalu tersenyum dan tidak henti mengucapkan kata “syukur.”
Ini soal perspektif, soal cara pandang. Orang yang sakit dan wajahnya keruh dan selalu mengeluh menganggap, memandang, menyikapi sakit itu sebagai derita yang rasanya sangat berat untuk ditanggung. Ia ingin segera sembuh sehingga badan terasa nyaman, tidak merasa menanggung beban di sini begini, di bagian itu begitu, di bagian sana demikian, dst. Sebaliknya, orang yang sakit yang di wajahnya selalu tersenyum dan terus saja mengucapkan kata “syukur” memandang, menganggap, menyikapi sakit sebagai hal yang lumrah atau biasa. Beban itu ditanggung tanpa mengeluh sebab meskipun terasa berat dia juga tahu bahkan sadar mengeluh tidak mengurangi beratnya beban derita itu. Sebaliknya dengan tersenyum dan bersyukur beban berat itu tetap terasa berat tetapi mampu ditanggung nya sebab tidak tertambahi beratnya perasaan negatif.
Sepasang suami-isteri yang telah berumur 75 tahun lebih, Bp. soetijono dan ibu Susetyaningtyas, mempunyai sebuah rumah di sebidang tanah, bu Tyas terkena kanker ganas di rahangnya, sehingga harus menjalani operasi membuang rahang, dan penyinaran untuk membunuh sel-sel kanker. Karena tidak memiliki rahang maka juga tidak bisa makan. Ia hanya bisa menelan cairan. Asupan setiap harinya adalah minum jus, susu khusus, dan bubur sumsum atau makanan yang mesti dilembutkan sedemikian sehingga menyerupai bubur sumsum atau minuman.
Meskipun mereka mempunyai anak yang cukup kaya dan pasti bisa menanggung biaya pengobatan yang sangat mahal itu, tetapi mereka berdua sudah berkeputusan untuk tidak merepotkan anak, sebab anak pasti juga menanggung kebutuhan mereka sendiri. Oleh sebab itu mereka memutuskan untuk menjual rumah dan pekarangan, satu-satunya harta yang mereka miliki.
Ketika dijenguk bu Tyas berucap: “saya ini sekarang menjadi wanita paling cantik di dunia” Ya, kemana pun ia pergi ia harus memakai payung, sebab wajahnya yang setiap hari disinar laser itu memang tidak boleh terkena sinar matahari. Ia juga merasa menjadi wanita paling cantik, karena cukup dimanja oleh suaminya. Sang suami yang menyiapkan apa pun untuk mandi, makan, dsb. perlakuan itu dirasa seperti cara dayang-dayang memanjakan seorang putri raja besar.
Ketika suatu ketika ia dalam kegelisahannya akhirnya menyampaikan isi hati dengan jujur kepada suaminya: “karena saya sakit, kita terpaksa harus menjual rumah kita yaa!?” dengan cepat pask Soetijono, sang suami, menjawab: “oh tidak terpaksa, tidak begitu. Kamu salah memandang itu. kita mesti bersyukur bahwa kita mempunyai rumah dan pekarangan, sehingga ketika kamu sakit dan membutuhkan biaya yang sangat mahal, kita masih bisa menjual rumah dan pekarangan kita. Kalau kita tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai pekarangan, padahal kamu sakit, waduh lalu bagaimana? Jadi, kita mesti bersyukur, terimakasih Tuhan, sudah memberkati kami rumah dan pekarangan. Sekarang kita jual, untuk membiayai pengobatanmu. Iya, kita mesti begitu. Jangan malah berpikiran negatif.”
“begitu pak pendeta. Jadi, kita ini mesti selalu bersyukur. Kami bersyukur, meskipun sakit dan butuh biaya sangat besar tetapi tidak terlalu merepotkan anak. Kami juga bersyukur meskipun rumah dan pekarangan itu sudah dibeli tetapi kami tetap boleh menempati sampai akhir hayat. Pokoknya harus tetap selalu bersyukur. Hati mesti tetap damai, seperti yang diajarkan pak itu…..”
Ya,lihat wajah mereka yang sumringah, diwarnai senyum,meskiupn sedang tinggal di kamar pondokan seluas 3 kali 3 m, dengan beban berat yang sedang ditanggung karena sakit kanker
(tercekat di dada tangis haru tertahan, sehingga dada terasa sesak, karena mendengar kesaksian tentang syukur dari hati damai itu dari orang yang sedang menanggung beban sangat berat).

Ki Atma